"Rasanya sekarang jadi nyaman dalam menjalani hidup, fokus saja ke perbuatan baik yang bisa dilakukan kepada siapapun," kata seorang pria berusia 70 tahunan.
Ia mengaku telah tersadarkan untuk tidak mengikuti agama apapun, lepas dari doktrin dan dogma agama yang ia anggap hanya membelenggunya selama puluhan tahun kehidupan yang telah dilaluinya.
"Dulu jika meninggalkan ajaran agama, lupa beribadah; rasanya seperti ada beban yang menghimpit, tapi kini perasaan itu hilang begitu saja," ujarnya.
Ia mengaku tidak saja skeptis terhadap agama tapi juga terhadap keberadaan Tuhan; yang menurutnya bisa ada tapi juga bisa tidak ada, karena keberadaan yang cuma ada dalam perkiraan dan perasaan.
Agnostik, agnostisisme, ternyata memang nyata diantara mereka yang beragama dan percaya Tuhan. Kedengarannya seperti prediksi yang terlalu berlebihan, tapi ini fakta. Mungkin saja tidak sedikit jumlahnya, secara sembunyi berada di komunitas-komunitas kecil, karena mereka tak ingin melawan interaksi sosial, tak ingin dikucilkan dari pergaulan maupun hubungan diantara keluarga.
"Apapun yang tak dapat dibuktikan secara fakta, tak dapat diterima secara logika manusia waras; itu adalah kebohongan," ungkap seorang pria muda berusia 30 tahunan yang mengaku dalam beberapa tahun terakhir tersadarkan dari ajaran-ajaran agama yang ia anggap telah menjeratnya.
Begitu pula pengakuan seorang pria berusia 60 tahunan, yang hidup menduda setelah kematian istrinya. Meski hidup sendiri, hidup di lingkungan yang tampak agamis, ia tetap pada prinsip agnostisme.
Pemaparan ini bukan karangan, tapi mengungkap sedikit celah yang tak mustahil akan semakin mengungkap lebar dengan sendirinya di masa depan tentang agnostik maupun agnostisisme diantara kehidupan yang tampak agamis dan religius namun sebenarnya pondasinya semakin rapuh.
"Sekarang di era modern, apa saja akan menemukan jawabannya; yang selama ini tersembunyi dan disembunyikan dari pengetahuan kita," kata mereka. ©Jurnalisia™
đź‘€ 330
Tags:
Interaktif
