Anda Pengunjung ke 228.640.998

Sapto Dharmo, Aliran Kerohanian Tanpa Kitab Suci Dogmatis


Jurnalisia,
Hardjosapoero, Tokoh Awal Aliran Kerohanian Sapta Darma (Sapto Dharmo) mengklaim menerima wahyu langsung dari Tuhan. Aliran ini merupakan satu organisasi penghayat kepercayaan (kebatinan/kejawen) asli Indonesia yang muncul di Pare, Kediri, Jawa Timur, pada 27 Desember 1952. 

Hardjosapoero, kemudian diberi gelar Panuntun Agung Sri Gutama. Meskipun ajarannya berbasis wahyu, sistem kitab suci dan konsep ketuhanannya memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari Agama Samawi (Islam, Kristen, Yahudi):

Wahyu yang diterima oleh Sri Gutama bukan berupa kitab yang tebal, melainkan satu petunjuk spiritual instant berupa perintah untuk bersujud menyembah Allah Yang Maha Kuasa dan tuntunan hidup moral. Wahyu-wahyu lisan tersebut kemudian dihimpun oleh para pengikutnya menjadi buku panduan atau pedoman yang dikenal sebagai Kitab Wewarah Sapta Darma.


Aliran Kerohanian Sapta Darma menegaskan bahwa mereka tidak mengenal adanya nabi, rasul, malaikat, maupun kitab suci dogmatis seperti agama-agama besar dunia. Bagi mereka, "Guru Sejati" adalah rohani atau hati nurani suci yang ada di dalam diri setiap manusia.

Nama "Sapta Darma" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Tujuh Kewajiban Suci. Ada 2 pilar utama dalam praktik spiritual mereka; Sujud, ritual ibadah utama yang dilakukan dengan duduk bersila/bersimpuh menghadap ke timur (simbol asal mula kesucian/kehidupan) untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, dan Wewarah Pitu (Tujuh Petuah), pedoman moralitas sehari-hari yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. ©Jurnalisia™ 
 768 Pengunjung 
Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara