Anda Pengunjung ke 229.698.324

Lihat, "Rumah Tuhan" Itu Musnah Terbakar


"Nggak usah repot-repot mengangkut barang-barang, tutup saja semua jendela dan kunci saja pintunya," teriak Julak Mansyah ke Amri dari seberang gang diantara suara gaduh warga yang melihat api sangat besar yang mengarah ke kampung mereka.

Meski Amri mendengar teriakan Julak Mansyah, tapi ia mengacuhkannya, Amri tetap masuk ke rumah neneknya. Amri mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah yang bisa ia angkat dan mengamankannya di halaman sekolah yang berjarak puluhan meter dari rumah. Sementara nenek dan datuknya (ibu dari nenek) telah mengungsi ke rumah kerabatnya di luar kampung.

Merasa peringatannya diacuhkan Amri, Julak Mansyah pun bahkan mendatangi Amri ke halaman sekolah.

"Apinya tak bakalan sampai ke kampung kita ini. Disini ada rumah Tuan Guru Haji Muksin, beliau itu punya karomah, api akan padam sebelum membakar rumah-rumah di kampung kita ini," Julak Mansyah berusaha meyakinkan Amri.

"Maaf Julak, aku tak mau melawan api yang jelas dan nyata itu dengan cuma berlandaskan keyakinan melawan hukum alam," sanggah Amri. 

Julak Mansyah pun cuma bisa menghela nafas panjang atas keputusan Amri yang ia anggap sebagai keras kepala bertentangan dengan keyakinan orang banyak.

Tak berapa lama dari kejauhan terdengar teriakan sejumlah warga, "surau kita terbakar !"


Amri dan Julak Mansyah sama-sama menoleh ke arah suara teriakan warga itu. Cuaca yang tampak cerah dan terik di atas surau berubah jadi kelabu oleh asap tebal yang bergulung-gulung namun cepat sirna disapu tiupan angin cukup kencang.

"Nah tuh, surau yang kita anggap sebagai rumah Tuhan saja terbakar, apalagi cuma rumah manusia," tunjuk Amri ke arah surau yang sedang dilalap api; yang jaraknya lebih dari 100 meter dari rumah Tuan Guru Muksin.

Mendengar perkataan Amri itu, Julak Mansyah pun bergegas pergi ke rumahnya, mungkin ia pun akan mengeluarkan dan menyelematkan barang-barangnya pula.

Kejadian belasan tahun lalu di kampung itu; masih sangat jelas dalam ingatan Amri. Kebakaran sangat besar melanda kota kabupaten dimana terletak kampung Amri, memusnahkan ribuan rumah dan bangunan. 

Dan masih sangat jelas di ingatan Amri; rumah Tuan Guru Muksin, tokoh masyarakat dan agama yang dianggap paling alim dan punya karomah; rumahnya yang bersebelahan dengan rumah nenek Amri turut jadi puing dan abu; rata dengan tanah. 

Setelah peristiwa kebakaran yang hebat itu, tak berapa lama Datuk Amri meninggal dunia, dan tak berapa lama pula Amri mendapat pekerjaan di kabupaten tetangga dan meninggalkan kampungnya yang mulai berbenah.

"Rumah Julak Mansyah juga musnah oleh api," cerita Juhri ketika Amri bertelponan dengannya setahun pasca kebakaran. ©ISP 
 1.061 Pengunjung 
Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara