Anda Pengunjung ke 229.796.127

Beda Antara Agnostik dan Atheis


Jurnalisia,
"Saya tidak tahu, dan saya tidak mengklaim tahu".

Itulah kalimat yang sering dikutip oleh para penganut Agnostik.

Kata "Agnostik" pertama kali diciptakan oleh Thomas Huxley pada 1869

Agnostisisme bukan kredo, tapi metode. Esensinya adalah menerapkan prinsip tunggal secara tegas; di dalam hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara logis atau ilmiah, jangan mengaku yakin. Artinya; kalau tak ada bukti, ya jangan sok tahu.

Bertrand Russell dengan "Teh Poci" / Celestial Teapot. Ini analogi paling legendaris untuk menjelaskan posisi agnostik. "Kalau saya bilang ada teko porselen yang mengorbit matahari diantara Bumi dan Mars, kamu tak bisa membantahnya. Tapi itu bukan alasan bagi kamu percaya." Sama seperti Tuhan; tak bisa dibuktikan ada, tak bisa dibuktikan tak ada, jadi posisi netral.

Menurut Carl Sagan, "Absennya bukti bukanlah bukti absen." Karena kita belum menemukan bukti Tuhan tak ada, bukan berarti Dia tak ada. Dan karena belum ada bukti Dia ada, bukan berarti kita harus percaya.


Sedangkan menurut Robert Ingersoll, "Agnostisisme adalah satu-satunya sikap jujur dari seorang pemikir." Menggaku "tidak tahu" itu lebih jujur daripada pura-pura tahu.

Inti 3 pernyataan kaum agnostik; (1) "Saya tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, (2) "Manusia saat ini tidak mungkin tahu apakah Tuhan ada atau tidak", 
(3) "Saya menangguhkan penilaian sampai ada bukti".

Bedanya sama atheis yang mengatakan "Tuhan tidak ada". Agnostik berkata; "Saya tak tahu, dan mungkin memang tak akan pernah bisa tahu".

Terdapat tokoh Indonesia yang dikenal dengan pernyataan agnostik diantaranya; Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan, Goenawan Mohamad, Pendiri Majalah Tempo, dan Karlina Leksono, Penulis dan Aktivis.

Karena di Indonesia topik ini sensitif, kebanyakan pembicaraannya hati-hati dan lewat tulisan/esai. Tak banyak yang "out" terang-terangan. ©Jurnalisia™ 
 1.663 Pengunjung 
Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara