"Kenapa menangis sayang, ayo cerita ke ibu," tanya ibunya Mamat lembut.
Mamat tetap tersedu dan sesenggukan sambil menatap lantai rumah. Ibunya pun menghentikan pertanyaannya, dengan sabar menunggu anaknya selesai menangis.
Setelah beberapa saat agaknya Mamat sudah selesai dengan tangisannya, ibunya pun kembali bertanya kenapa Mamat menangis.
Dengan suara pelan Mamat pun mulai bercerita tentang kenapa ia pulang ke rumah lalu menangis. Menurut cerita Mamat, Guru di sekolahnya, di Kelas 2 SD yang bernama pak Rahman; memerintahkan Mamat membaca tulisan dalam aksara Arab. Padahal selama ini Gurunya itu belum pernah mengajarinya aksara yang sangat berbeda dari aksara Latin itu.
"Mamat, ayo maju ke depan, kamu baca ini," perintah pak Rahman kala itu sambil menyodorkan selembar kertas berisikan tulisan.
Mamat pun menerima selembar kertas itu lalu melihat ke tulisannya, keruan Mamat pun bingung, karena meski ia pernah melihat tulisan sejenis di satu buku, tapi ia tak bisa membacanya.
"Sa..sa..saya tidak bisa membacanya pak," jawab Mamat dengan gugup dan terbata.
"Masa kamu tak bisa membacanya, apakah di rumah kamu tak diajari orangtuamu membaca tulisan seperti itu ?" tanya pak Rahman dengan nada tinggi.
Mamat terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia pun menjawab setelah berpikir beberapa saat, "Saya tak diajari tulisan seperti ini di rumah."
Pak Rahman geleng-geleng kepala mendengar jawaban polos Mamat itu.
"Harusnya orangtuamu mengajarkan cara membaca sekaligus bilamana perlu cara menulis tulisan itu. Berarti orangtuamu tak punya perhatian terhadap hal penting ini," ujar pak Rahman seolah menyalahkan orangtua Rahman.
Mendengar perkataan pak Rahman itu, perasaan Mamat jadi sedih dan hampir saja ia menangis, namun ia tahan tangisnya. Makanya setiba di rumah Mamat menumpahkan kesedihannya dengan menangis di depan ibunya.
"Sudahlah, tak usah sedih, itu bukan salah kamu," hibur ibu Mamat ke anaknya.
Sore harinya ketika pak Amru, ayah Mamat pulang, ibunya bercerita tentang kejadian Mamat dan Gurunya di sekolah.
"Guru si Mamat itu pikirannya menyamakan semua murid yang diajarnya itu dapat membaca aksara Arab karena diajari orangtuanya masing-masing di rumah," komentar pak Amru.
Ia pun menyuruh ibunya Mamat memanggil si Mamat yang sedang bermain bersama anak tetangga di halaman rumah mereka.
"Apakah ada temanmu satu kelas yang dapat membaca tulisan Arab itu ?" tanya pak Amru setelah Mamat di hadapannya.
"Ada, beberapa teman Mamat dapat membacanya. Yang lain yang tak dapat membacanya seperti Mamat, juga dikatakan pak Guru kalau orangtuanya tak punya perhatian," jelas Mamat.
Mamat melanjutkan, ia dan teman-temannya yang tak dapat membaca tulisan Arab itu disoraki oleh mereka yang bisa membacanya, makanya Mamat bukan saja sedih tapi juga merasa malu.
"Aku pikir itu Guru harusnya bukan menyuruh membaca, tapi menyuruh mendengarkan bunyi tulisan Arab itu kepada mereka yang tak dapat atau belum bisa membacanya," kata pak Amru.
Mendengar perkataan suaminya itu ibu Mamat mengangguk menyetujui pendapat yang barusan keluar dari pikiran dan mulut pak Amru.
Dalam pikiran ibu Mamat; memang seharusnya kepada orang yang tak dapat membaca bukan diperintahkan membaca, tapi mendengarkan. ©ISP
đź‘€
Tags
Cerpen

