Bagaimana Agama Bisa Bertahan


Jurnalisia,
Agama yang dapat bertahan lama adalah agama yang mampu beradaptasi dengan politik dan kekuasaan, dan budaya.

Kristen dan Islam adalah 2 contoh paling sukses dalam sejarah mengenai bagaimana satu agama mampu beradaptasi secara luar biasa dengan dinamika politik, kekuasaan, dan budaya lokal. 

Kemampuan adaptasi inilah yang membuat keduanya bertransformasi dari gerakan spiritual lokal yang kecil menjadi agama global dengan milyaran pengikut saat ini.

Adaptasi Kekristenan (Dari Kaum Tertindas Menjadi Agama Kekaisaran).

Pada 3 abad pertamanya, Kristen adalah agama minoritas yang dikejar-kejar dan dipersekusi oleh Kekaisaran Romawi. Titik balik adaptasi politiknya terjadi ketika Kaisar Konstantinus menetapkan Edik Milan (313 M) yang melegalkan Kristen, dan Kaisar Teodosius I (380 M) menjadikannya agama resmi negara. Kristen beradaptasi dari struktur komunitas bawah tanah menjadi institusi hierarkis formal (Gereja) yang meniru struktur birokrasi Romawi.

Kristen beradaptasi dengan tradisi lokal Eropa (Paganisme) untuk mempermudah konversi massa, seperti mengadopsi penanggalan perayaan musim dingin menjadi hari Natal.


Pada abad ke 15 hingga ke 19, Kristen bergerak bersama kekuatan politik dan militer Eropa (semboyan Gold, Glory, Gospel), menyebar ke benua Amerika, Afrika, dan Asia dengan menyesuaikan diri pada sistem kolonial yang ada.

Adaptasi Islam (Dari Jazirah Arab Menjadi Kekhalifahan Kosmopolitan).

Islam lahir di tengah masyarakat kesukuan (Tribal) Arab yang tidak memiliki sistem negara formal. Islam beradaptasi dengan sangat cepat menjadi satu kekuatan politik besar ketika wilayah Islam meluas ke bekas wilayah Persia (Sasanian) dan Romawi Timur (Bizantium) pada era Umayyah dan Abbasiyah, Islam tidak menghapus sistem administrasi lama. Mereka mengadopsi sistem pajak, pembukuan, dan birokrasi Persia/Romawi untuk menjalankan pemerintahan Islam.

Islam berhasil beradaptasi dari agama yang awalnya berpusat pada hegemoni suku Arab menjadi agama kosmopolitan. Ketika kekuasaan bergeser ke etnis Non Arab (Persia pada masa Abbasiyah, dan Turki pada masa Ottoman), teologi politik Islam menyesuaikan diri agar kepemimpinan Non Arab tetap dianggap sah.

Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia), Islam beradaptasi melalui jalur damai perdagangan dan perkawinan politik. Islam menyerap unsur-unsur budaya lokal (Jawa, Melayu, dan lainnya) dan tidak memaksakan budaya Arab murni, sehingga mudah diterima oleh para raja dan penguasa lokal saat itu.

Kesimpulan pola adaptasi keduanya adalah; agama-agama ini memiliki fleksibilitas teologis yang memungkinkan mereka untuk memisahkan antara doktrin ibadah yang mutlak (teologi dasar) dengan aturan kemasyarakatan/politik yang fleksibel. Hal ini membuat Kristen dan Islam selalu bisa relevan, baik ketika mereka menjadi oposisi yang tertindas, maupun ketika mereka menjadi ideologi resmi penguasa. ©Jurnalisia™
đź‘€ 

Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara | Yang minat sewa sound system, silakan klik foto di bawah ini Anda langsung terhubung

Pariwara | Penyedia bahan & produk aluminium & baja ringan, klik foto banner langsung terhubung