Jurnalisia,
Negara yang ingin maju dipastikan akan lebih memperhatikan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) daripada hal lainnya. Tapi Indonesia memang agak lain, anggaran untuk pendidikan yang merupakan sarana untuk membangun SDM justru tidak menjadi prioritas utama.
Bayangkan saja anggaran untuk pendidikan di Indonesia tahun 2026 hanya berada di urutan ke 8 dan ke 10 dari 10 Kementerian; yakni untuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknlogi sebesar Rp 55,45 trilyun, sedangkan anggaran untuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebesar Rp 33,65 trilyun, yang jika digabung keduanya menjadi sebesar Rp 89,10 trilyun, atau kalah jauh dari anggaran untuk Badan Gizi Nasional (BGN) yang sebesar Rp 217,86 trilyun.
Dengan anggaran total 2 kementerian itu, anggaran pendidikan juga kalah dari anggaran untuk Kementerian Pertahanan yang sebesar Rp 167,4 trilyun, untuk Polri sebesar Rp 109,67 trilyun, dan untuk Kementerian Kesehatan sebesar Rp 104,35 trilyun.
Anggaran untuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknlogi sebesar Rp 55,45 trilyun saja kalah dari Kementerian Sosial sebesar Rp 76,04 trilyun, Kementerian Agama sebesar Rp 75,21 trilyun dan Kementerian PU sebesar Rp 70,86 trilyun. Sedangkan anggaran untuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebesar Rp 33,65 trilyun kalah dari anggaran untuk Kementerian Keuangan sendiri yakni sebesar Rp 47,13 trilyun.
Tragis memang, seharusnya anggaran pendidikan yang untuk membangun SDM berada paling atas melebihi anggaran apapun, justru dikalahkan oleh anggaran untuk Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga saat ini belum dinikmati oleh seluruh sekolah di Indonesia. Anggaran untuk MBG yang hasilnya berupa makanan dan minuman terlepas bergizi atau tidak tapi sangat jelas kita semua berharap yang mengandung gizi; hasil akhirnya adalah berupa kotoran manusia. ©Jurnalisia™
👀 2822


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.