Editorial | Demi Masa di Tahun 2025


Tahun Masehi memasuki hitungan hari menuju tahun 2026
Waktu terus melaju tanpa seorangpun yang dapat menahannya kecuali kita hanya bisa terus menghitungnya dalam simbol tambah atau plus.

Tahun 2025 akan menjadi kenangan, menambah memori diantara tumpukan memori tahun-tahun sebelumnya yang sesekali dibuka untuk sekedar bernostalgia, atau sekedar ingin membandingkan kenangan yang telah berlalu dengan yang sedang dijalani.

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS Al-Asr 1 - 3)

Dalam perspektif Islam berdasarkan ayat Alquran di atas; karena masa (waktu) manusia itu merugi atau dalam kerugian, atau mengalami kerugian.
Yang tak rugi itu adalah mereka yang beriman dan berbuat kebaikan. Namun tak cukup, tapi juga saling memberikan nasihat dalam hal kebenaran serta kesabaran.

Sepintas ayat Alquran tersebut tampak sederhana dan mudah dicerna, namun secara praktik pasti teramat sulit.
Seseorang bisa saja dianggap beriman dan mengaku beriman tapi belum tentu selalu berbuat kebaikan secara berkesinambungan. Seseorang yang mengaku beriman belum tentu dianggap beriman oleh orang lain, karena antara mengaku dan diakui berbeda, begitupun menganggap dan dianggap, penilaian terhadap 'beriman' itu oleh orang lain (eksternal) bukan oleh diri sendiri (internal). 

Tak sedikit orang yang mengaku dan menganggap dirinya beriman, diakui dan dianggap beriman pula oleh orang-orang lain, tapi justru terpuruk kepada perbuatan-perbuatan yang sama sekali tak bisa dianggap baik dari segi perbuatan, moral, etika apalagi agama.

Sifat manusia sejak dulu diantaranya adalah sulit dinasihati tentang kebaikan. Konon dimulai dari nenek moyang manusia sendiri Adam dan Hawa (Eva). Tuhan menasihati (tepatnya larangan) keduanya untuk kebaikan; mereka boleh makan buah dari pohon apa saja yang ada di taman Eden (Arab; Adn) terkecuali 1 pohon yakni pohon kehidupan (Islam; Khuldi) tapi dilanggar oleh Adam dan Hawa.

Untuk menjaga agar manusia selalu berbuat kebaikan; Tuhan mengutus para Nabi dan Rasulnya kepada manusia dengan bahasa manusia dimana Nabi dan Rasul itu diutus; agar para Nabi dan Rasul itu dapat menjelaskan ke mereka, kemudian dilanjutkan oleh para pemuka agama, namun tetap saja manusia selain berbuat kebaikan juga melakukan perbuatan jahat.

Dan diantara sifat manusia lainnya adalah tidak sabar. Menginginkan sesuatu secara instant; terjadi langsung seketika.
Konon Tuhan menguji manusia dengan berbagai hal apakah itu berupa kenikmatan maupun penderitaan dan kesengsaraan apakah manusia itu mampu sabar dan dalam kesabaran. Tak sedikit manusia yang mampu dalam kesabaran di saat dalam ujian dan cobaan penderitaan serta kesengsaraan, tapi tak sedikit manusia pula yang justru gagal ketika diuji dan dicoba dengan kenikmatan dan keterpurukan ketika kenikmatan itu diambil dan disita oleh si Pemberi Kenikmatan.

Di saat seseorang dalam ujian dan cobaan, disinilah seseorang itu memerlukan dukungan (support) dari yang lainnya yakni nasihat untuk bersikap dan berlaku sabar. Namun sifat apatis (acuh) manusia tak jarang mengabaikan manusia lainnya karena sifat egoisnya; senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. 

Nah, itulah manusia, itulah kita di 2025 yang tak lama lagi akan berganti ke 2026; beruntung, rugi, balik modal, dan di penghujung tahun ini yang sedang kita jalani. ©Jurnalisia™
đź‘€ 9791

 

Posting Komentar

Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.

Lebih baru Lebih lama