Didukung Oleh Investing.com

Kiprah Datu Kalampayan, Diijinkan Mengajar di Mesjid Al Haram

foto : ilustrasi by AI
Jurnalisia,
Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan) menuntut ilmu di Mekah dan Madinah (Haramain) selama kurang lebih 30-35 tahun (sekitar 1740-1773 M) atas dukungan Kesultanan Banjar

Beliau berguru kepada Syekh Atillah Almasri (diizinkan mengajar di Masjidil Haram), Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani (tasawuf), serta Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad-Damanhuri, serta tergabung dalam jaringan intelektual "Empat Serangkai Jawi" sebelum kembali ke Banjar. 

Di Haramain Beliau mendalami berbagai bidang ilmu agama, terutama fikih mazhab Syafi'i, serta ilmu falak, yang kemudian menjadi dasar penyusunan kitab Sabilal Muhtadin.

Selama di Haramain, Beliau bersinergi dengan Ulama Nusantara lainnya, yakni Abdus Samad al-Palimbani, Abdul Wahab al-Bugisi, dan Abdurrahman Misri. Pengalaman panjang di Mekah menjadikan Syekh Arsyad sebagai Ulama berpengaruh yang membawa pembaruan hukum Islam di Kesultanan Banjar setelah kepulangannya pada tahun 1773 M. ©Jurnalisia™ 
đź‘€ 61161  


Lebih baru Lebih lama