Bajakah, tepatnya akar pohon Bajakah, satu diantara kekayaan di bumi Kalimantan sempat menggemparkan dunia dari hasil penelitian anak pelajar SMA yang bisa untuk mengobati kanker, dan kini terus dilanjutkan proses penelitiannya terutama di Kalteng.
Bajakah ini hanya sebagian dari potensi yang masih tersembunyi di propinsi nomor 2 terluas di Indonesia ini dan masih banyak Sumber Daya Alam (SDA) hayati yang sebagian memiliki fungsi pengobatan.
“Hutan di Kalteng memiliki kekayaan biodiversitas yang tinggi termasuk didalamnya terdapat tumbuhan hutan yang berkhasiat sebagai obat,” kata Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekdaprop, H. Fahrizal Fitri, pada pertemuan dengan Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene dan tim pendamping di Palangka Raya, Kamis (13/02/20) lalu.
Dijelaskan Gubernur pada forum membahas pengawasan atas fungsi, penindakan, intelijen, dan penyidikan dalam hal pengawasan obat dan makanan ini, selain kekayaan biodiversitas, etnis asli Suku Dayak yang menghuni wilayah Kalteng secara turun temurun juga memiliki pengetahuan tradisional dalam hal pengobatan dengan memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan hutan yang ada di sekitar mereka.
Pemanfaatan Tumbuhan Hutan Berkhasiat Obat (THBO) ini sudah dilakukan masyarakat sejak masa lampau. Diantaranya satu tumbuhan yang secara tradisional digunakan Suku Dayak di Kalteng untuk pengobatan itu adalah tumbuhan Bajakah Tunggal.
Dilatari hasil penelitian pendahuluan oleh sekelompok Pelajar SMA 2 Palangka Raya di tahun 2019 lalu, tumbuhan tersebut mendapat perhatian dunia medis karena mengandung zat penyembuh kanker.
“Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait klasifikasi tanaman karena terdapat sekitar 200 jenis/spesies,” sebut Gubernur yang menjelaskan pula, saat ini pemerintah daerah telah mendapat dukungan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) untuk melakukan penelitian identifikasi, uji sitotostik in vitro ekstrak dan uji fitokimia beberapa sampel tumbuhan Bajakah. Proses penelitian itu telah berjalan hingga saat ini.
Ditambahkan Gubernur, proses penelitian dan pengembangan tumbuhan berkhasiat obat ini masih perlu dukungan banyak pihak khususnya lembaga-lembaga riset lain sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya warga Bumi Tambun Bungai.
Pertemuan dengan Felly Estelita Runtuwene itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja sehari tim Komisi IX DPR RI ke Kalteng. Kehadiran Ketua Komisi IX ini didampingi Staf Ahli Menteri Kesehatan, Dr. Kuwat Sri Hudoyo MS, serta perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat, Dra. Rita Endang. (Dolok)
Tags:
Kesehatan
