Setelah terakhir kali di tahun 1993 Kotabaru menjadi tuan rumah MTQ tingkat Propinsi Kalsel, barulah di tahun 2019 ini kembali menjadi tuan rumah lagi setelah 26 tahun lalu.Bagi warga Kotabaru mungkin masih segar dalam ingatan saat Kotabaru jadi tuan rumah MTQ di tahun 1993, dimana saat itu terjadi kebakaran hebat yang memusnahkan banyak rumah dan harta benda warga, sehingga kelanjutan pelaksanaan MTQ pun dipindahkan ke Banjarmasin.
Pelaksaan MTQ kali ini di Kotabaru setidaknya menghabiskan anggaran belasan milyar rupiah bahkan mungkin lebih. Dengan dalih sekaligus untuk memperkenalkan berbagai objek wisata daerah kepada para pengunjung dari luar terutama para peserta kafilah MTQ.
Ironis memang diantara kondisi keungan yang defisit dan kas daerah yang sempat kosong, Kotabaru masih sempat-sempatnya melaksanakan dan menjadi tuan rumah MTQ. Diantara sekian banyak fasiltas umum yang belum diperbaiki namun masih sempat menggelontorkan dana belasan milyar rupiah, sepertinya sedang berpacu dengan prestise bukan pada prestasi yang dapat dinikmati oleh seluruh warganya.
Kalau berhitung dari segi keuntungan finansial jelas pelaksanaan MTQ tak menghasilkan apapun selain non materi yang terkait kepuasaan bathin dan rohani umat terutama umat Islam. Kalaupun dikaitkan dengan promosi kepariwisataan; dipastikan hasil tak berimbang antara pemasukan dan yang dikeluarkan dengan penghasilan meski dalihnya kembali ke urusan jangka panjang.
Nah, dengan kondisi Kotabaru terkini pertanyaan pun muncul menyeruak, MTQ ke 32 Tingkat Propinsi Kalsel di Kotabaru apakah ini prestise taukah prestasi, silakan saran dan komentarnya di kolom di bawah ini, dan jangan lupa share. (Red)
*Pasal 5 Ayat (1); Pers Nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.
Tags:
Opini
