Harga sawit anjlok beberapa bulan terakhir, data dari berbagai sumber menurunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit terjadi sejak bulan Perbuari 2018 hingga hari ini.
Harga TBS di beberapa wilayah Kotabaru, khusunya Kecamatan Pulau Laut Tengan dan Pulau Laut Barat berkisar Rp 500 sampai Rp 600 per kilogram, ditambah pengeluaran untuk upah panen Rp 250 per kilogram. Padahal harga normal sebelumnya dari pengepul mencapai Rp 1.400 per kilogram.
Penurunan ini terjadi secara berantai mulai dari harga terima TBS di pabrik hingga harga di tingkat petani. Diketahui pula buah TBS dari wilayah Pulau Laut dikirim ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Batulicin Tanah Bumbu.
"Harga bajual sawit murah banar, kada sasuai wan biaya perawatan, ekonomi keluarga kami semakin berat," ungkap Onot, seorang petani sawit di Desa Sungai Pasir Kecamatan Pulau Laut Tengah.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka bisa dipastikan akan banyak petani sawit yang akan beralih profesi baik sementara maupun permanen. Mereka yang merasa tidak mampu mengelola kebunnya tentu akan menjual lahannya kepada para pemodal, khususnya petani yang murni menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil kebun sawit.
Para petani berharap Pemkab atau Pemprop memperhatikan keluhan mereka dan melakukan intervensi harga TBS agar tidak anjlok seperti sekarang ini.
Para petani berharap Pemkab atau Pemprop memperhatikan keluhan mereka dan melakukan intervensi harga TBS agar tidak anjlok seperti sekarang ini.
Faktor yang mengakibat menurunnya harga TBS kelapa sawit ini diantaranya adalah faktor external yaitu boikot Uni Eropa terhadap Crude Palm Oil (CPO) dari Indonesia. Puncak dari boikot ini akan terjadi pada 2021. Eropa menilai Indonesia melakukan penggundulan hutan untuk perluasan tanaman kelapa sawit yang tidak ramah lingkungan, namun pemerintah pusat sudah melakukan berbagai upaya dan langkah-langkah antisipasi dengan melakukan pertemuan berbagai pihak untuk mencari solusi. (RNS)
Tags
Ekonomi


