Itu ungkapan hati dan perasaanku nyaris 2 windu lalu di satu rumah makan sederhana usai aku dan Christine di kota kami.
Aku barusan mengungkapkan perasaan cintaku ke Christine minggu lalu di tempat kerjanya di satu salon kecantikan saat ia jam istirahat.
Perkenalanku dengan Christine, janda anak 2 yang berasal dari suku di Sulawesi Utara. Bermula dari seorang teman yang mengajakku ke salon kecantikan itu.
"Daripada cuma nongkrong disini terus tak ada pemandangan bagus, ayo temani aku ke salon, disana pekerjanya ada yang cantik," ujar Toni, temanku satu profesi di perusahaan media lokal.
Saat itu aku sedang santai di satu warung kopi yang berlokasi di belakang pasar induk kabupaten; yang pemandangannya cuma pohon perdu dan kumpulan pohon bakau di kejauhan.
"Ayolah, siapa tahu dapat sesuatu disana," ujarku bangkit, membayar minuman, lalu melangkah ke sepeda motorku yang terparkir berdekatan dengan punya Toni; yang sudah menghidupkan sepeda motornya.
Aku pun mengikuti sepeda motor Toni menuju ke arah salon yang ia maksud. Sesampainya disana kebetulan suasana salon tak begitu ramai, cuma ada seorang wanita setengah baya yang sedang dilayani rebounding rambut. Sementara terdapat 4 wanita pekerja lainnya yang sedang duduk di sofa; ada yang sedang menatap ponsel, ada pula yang sedang membaca majalah dan membolak balik halaman majalah.
"Ayo bang, mau dilayani apa ? Mau cukuran, atau mau krimbat (creambath) ?" tanya seorang wanita pekerja yang berkulit bersih dengan tubuh proporsional berpakaian agak terbuka di bagian dada sambil tersenyum dengan logat terdengar seperti orang Jawa.
"Aku di-krimbat aja mbak," sahut Toni sambil menuju ke kursi salon dan duduk disana.
Seorang pekerja wanita lainnya yang tadinya asyik menatapi ponsel-nya, begitu melihat aku, ia bangkit dan melangkah ke arahku.
"Kalau abang mau di-krimbat juga ?" tanyanya sambil tersenyum tipis menatap lekat ke mataku.
"Belum tahu ini mbak, aku mau santai dulu. Disini boleh merokok nggak ?" tanyaku.
"Boleh, apa yang tidak untuk abang," jawabnya sambil terkekeh lalu mengambil asbak dan meletakkannya di meja di depanku.
Semetara itu Toni sedang dilayani oleh pekerja salon, aku asyik menyedot rokokku sambil melayangkan pandangan ke arah seluruh ruangan salon yang cukup lebar dengan peralatan yang cukup lengkap.
"Daripada cuma duduk-duduk sambil terus merokok, lebih baik krimbat aja," ujar Toni tertuju ke aku.
"Iya bang. Murah kok kalau cuma krimbat, biar kepalanya jadi ringan," timpal si wanita yang menyapaku tadi.
Setelah mempertimbangkannya, karena aku sama sekali belum pernah krimbat, aku pun bangkit setelah mematikan rokokku ke asbak.
"Okelah, hitung-hitung cari pengalaman pertama di-krimbat," ujarku terkekeh.
Aku pun dipersilakan duduk di kursi yang berhadapan dengan kaca cermin yang cukup besar. Si pekerja wanita pun melaksanakan tugasnya terhadapku.
"Nama kamu siapa ?" tanyaku di sela-sela kepalaku sedang dikeramas dengan shampo.
"Panggil saja Christine," jawabnya singkat sambil terus meremas rambut dan kulit kepalaku.
"Oh ya. Aku Andi," jawabku singkat sambil memejamkan mata menghindari air shampo yang sempat memercik ke mataku.
Setelah sekitar setengah jam, aku pun selesai di-krimbat, sedang Toni sudah duduk di sofa sambil merokok dan menyeruput minuman dingin yang dia ambil dari lemari pendingin di dalam salon itu.
"Gimana bang, enak kan habis di-krimbat ?" tanya Christine sambil senyum-senyum.
"Iya sih, sepertinya kepala terasa lebih ringan," jawabku sambil duduk di sebelah Toni.
"Itu si Christine lumayan juga, cocok buat kamu," bisik Toni ke telingaku sambil matanya tertuju ke arah Christine yang sedang melangkah ke arah pintu keluar.
Aku meninju pelan perut Toni usai mendengar bisikannya tadi. Toni terkekeh melihat sikapku yang dia anggap terlalu kaku.
"Itu yang tadi melayani aku krimbat, sudah jadian sama aku," cetus Toni memberitahuku.
"Waduh, kamu pasti sudah sering kesini," balasku.
"So pasti, makanya aku ajak kamu kesini biar ada teman," ujar Toni terkekeh lalu melangkah menuju wanita yang sebut sebagai pacarnya itu.
Aku duduk sendiri di sofa yang agak jauh dari sofa yang diduduki Toni dan pacarnya serta pekerja lainnya, tapi tak tampak Christine disana.
Tak berapa lama Christine membuka pintu depan salon dan masuk sambil menampakkan wajah tanpa senyum melangkah ke sofa dimana teman-temannya berada.
"Dari mana kamu ?" tanya seorang temannya.
"Aku dari kios ponsel di depan itu cari pulsa, tapi habis. Ada sih kios lainnya tapi lumayan jauh," jawab Christine.
"Aku mau nelpon ibu di kampung, tapi pulsaku tak cukup," jelas Christine.
Aku yang mendengar perkataan Christine itu, muncul simpatiku untuk sekedar membantu memberinya pulsa.
"Kalau cuma pulsa, aku bisa membantu." tawarku ke Christine.
"Boleh juga bang, tapi jangan banyak, secukupnya aja buat nelpon sebentar," ujarnya.
"Sini kalau mau diberi pula," kataku sambil terkekeh dan melambaikan tanganku ke arahnya.
Ia pun melangkah menuju sofa dimana aku duduk. Sambil berdiri di depanku ia menyebutkan nomor ponsel-nya, aku pun memasukkannya ke ponsel-ku lalu membeli melalui SMS Banking. Tak berapa lama terdengar pemberitahuan pula masuk ke ponsel Christine.
"Ini kebanyakan bang, aku jadi tak enak," ujar Christine dengan ekpresi muka kaget.
"Nggak apa-apa, biar nelpon ibumu agak lama," ujarku senyum.
"Iya deh, terimakasih banyak," ucapnya sambil melangkah ke luar salon. Dari kaca jendela salon kulihat Christine sedang menelpon di halaman.
Setelah menunggu beberapa saat Christine selesai menelpon dan masuk kembali ke salon. Aku pun menanyai berapa ongkos krimbat dan bersiap keluar bersama Toni. Namun sebelum membuka pintu keluar, aku berbalik sementara Toni sudah melangkah keluar duluan. Aku memanggil Christine yang sedang merapikan peralatan salon.
"Ada yang aku lupa," ujarku.
"Apa itu bang ?" tanya Christine heran.
"Tadi waktu aku membelikan pulsa untuk kamu, nomor kamu tersimpan di ponsel-ku," kataku.
"Memangnya kenapa bang ?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Boleh nggak kalau nomor kamu itu aku simpan di buka telponku di ponsel ?" tanyaku.
"Terserah abang aja, mau disimpan atau mau dihapus juga tak apa-apa, asalkan kalau mau krimbat atau cukuran tak lupa ke salon ini," jawabnya kali ini sambil senyum.
"Oke kalau begitu, terimakasih ya," ujarku sambil berbalik menuju pintu keluar. Di halaman tak kulihat si Toni, rupanya dia sudah duluan pergi, ia memberitahuku melalui SMS; "aku duluan, sudah waktunya makan siang ini, aku langsung pulang ke rumah," tulisnya di SMS.
Aku kembali ke warung kopi bekasku tadi, kali ini pesan teh hangat dan mie instant, aku belum mau pulang. Sambil menunggu pesananku, aku coba mengirim SMS ke Christine, isinya singkat; "ini aku Andi yang tadi kamu krimbat," tulisku. Tak berapa lama muncul balasan, "iya bang, ijin nomor abang aku simpan."
Sejak itu aku sering saling kirim SMS dengan Christine, juga tak jarang bicara di ponsel. Hingga akhirnya suatu siang di jam istirahat aku menelpon Christine dan mengajaknya makan siang di rumah makan yang tak seberapa jauh dari salon.
Usai makan siang kami, dan kebetulan rumah makan sudah mulai sepi, dan kami duduk agak di belakang ruangan, aku memberanikan diri menyatakan ketertarikanku ke Christine.
"Abang yakin dengan perasaan abang setelah mengetahui kondisiku begini, aku janda 2 anak ini," kata Christine pelan sambil menunduk. Aku menghela nafasku cukup dalam sambil menahan gejolak perasaanku yang campur aduk antara perasaan akan ditolak ataupun disuruh berpikir dulu berkali-kali.
Christine mengangkat mukanya lalu menatapku, lalu kembali berkata, "aku tidak yakin orang seperti abang tak punya istri dan anak."
Aku terpaku mendengar perkataan Christine. Untuk menghilangkan kegugupan aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"Jujur, aku memang punya istri dan 2 anak, sama seperti kamu. Tapi perasaanku tak dapat kudustai terhadapmu," kataku menahan gejolak perasaanku yang masih gugup.
"Itulah masalahnya bang, lagi pula keyakinan kita berbeda, abang Muslim aku Kristen," ujar Christine sambil menunduk.
Hari itu kami menyudahi pembicaraan di warung makan itu, masing-masing kami akan memikirkannya. Aku pun mengantar Christine ke salon.
Sepulang ke rumah aku terus memikirkan tentang Christine dan kondisi kami yang berbeda dan status masing-masing. Namun aku aku berpikir tetap pada pendirianku untuk mendapatkan Christine meski aku harus menduakan istriku yang ada.
Beberapa hari kemudian aku mengajak Christine per ke objek wisata pantai yang jaraknya sekitar hampir 1 jam dari kota kami berada. Disinilah kami saling bicara tentang berbagai kemungkinan tetang hubungan kami selanjutnya.
"Kalau kamu bersedia jadi istri kedua, hakmu akan sama dengan istriku yang ada ini. Jika kamu menolak, beri aku alasan kenapa, dan kalaupun kau bersedia, beri juga apa alasanmu," kataku sambil memegangi telapak tangan Christine.
"Bagaimana jika istri tahu nantinya tentang hubungan kita ?" tanya Christine sambil memandang tajam ke arah mataku seolah mencari kepastian yang dapat membuatnya tenang.
"Aku yang akan menanganinya," jawabku mantap.
Christine terdiam cukup lama mendengar jawabanku. Lalu berkata lirih, "aku cuma ingin kita aman dan abang benar-benar bertanggungjawab jika terjadi apa-apa di kemudian hari."
"Apakah itu artinya kamu bersedia menerimaku ?" tanyaku. Christine cuma mengangguk lalu memelukku erat.
Setelah pembicaraan kami di pantai itu, kami mulai merencanakan untuk pernikahan secara diam-diam. Aku mulai mencari informasi terkait penghulu yang bersedia menikahkan kami secara agama dan keyakinan yang aku peluk. Dan akhirnya aku menemukan seorang penghulu yang tinggal cukup jauh dari kota kami, dan informasi yang dapat; penghulu itu sering menikahkan pasangan yang berpoligami. Aku pun memberitahu tenyang ini ke Christine, dan ia tampak senang mendengarnya.
Kami juga menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi penghulu itu. Namun 2 hari sebelum kami pergi ke penghulu untuk nikah, Christine pagi itu menelpon dan memintaku ke salon karena ada yang mau dia bicarakan sangat penting. Aku pun dengan sigap pergi ke salon sambil di benakku menebak-nebak hal penting apa yang akan disampaikan Christine.
Sesampai di salon aku langsung masuk dan menemui Christine yang sudah menunggu di ruang bagian belakang salon dimana cuma ada kami berdua.
"Abang tak usah kaget mendengar ini," kata Christine. Aku mengangguk sambil tak sabar menunggu perkataan Christine selanjutnya.
"Aku akan mengikuti keyakinan abang, aku sudah belajar tentang keyakinan abang selama beberapa hari ini," ungkap Christine sambil matanya berkaca-kaca. Tanpa berkata apapun aku langsung memeluk erat Christine.
Kami pun kahirnya pergi menemui penghulu, dan menikah. Sehari usai menikah aku mengajak Christine menemui seorang ulama yang meneguhkan status perpindahan keyakinan, dan Christine mendapat semacam sertifikat.
Usai menikahi Christine, aku mengontrak satu rumah untuk tempat tinggal, semula Christine tidur berkumpul teman-temannya di salon. Aku pun mengatur waktuku bersama Christine di rumah kontrakan kami itu, 2 kali dalam seminggu aku bersama Christine dengan alasan ke istriku ada tugas keluar daerah. Namun akhirnya hubunganku dengan Christine ketahuan istriku juga yang secara tiba-tiba suatu siang sudah berdiri di depan pintu kontrakan kami.
Sebelum terjadi keributan antara istriku dengan Christine, aku buru-buru keluar dan menarik istriku dan mengajanya pulang ke rumah kami. Di rumah, aku secara jujur mengatakannya ke istriku kalau aku dan Christine sudah menikah. Istriku tentu saja marah, namun dengan ketenanganku yang sudah kupersiapkan aku berkata, " sekarang kamu sudah tahu, kamu boleh pilih; apakah masih ingin tetap bertahan bersamaku, atau aku yang keluar dari rumah ini."
Istriku menangis mendengar pilihan yang kuberikan kepadanya. Sambil menangis istriku berkata, "aku tetap nggak mau pisah, mungkin sudah memang nasibku begini, tapi abang harus adil kepada kami."
Aku cuma diam terduduk di kursi di ruang tamu mendengar perkataan istriku. Lalu dia mendekatiku dan memelukku sambil berkata, "abang harus adil kepada kami". Aku balas memeluknya sambil menciumi rambutnya tak terasa air mataku jatuh.
Meski cukup berat menjalani hidup dengan 2 istri, setelah beberapa lama, aku mulai merasa terbiasa dan menikmatinya, meskipun aku harus lebih giat berkerja dari sebelumnya untuk mencukupi kebutuhan istri-istriku. ©ISP™
📊 0
*Kesamaan tempat, nama dan karakter hanyalah kebetulan belaka, tulisan tersebut di atas hanyalah fiktif dan fiksi.
Tags
Cerpen
