"Persisnya aku nggak ingat, mungkin waktu umur 7 tahun," jawab Bejo sambil menerka-nerka maksud pertanyaan Ucok dalam pikirannya.
Ucok melanjutkan pertanyaannya ke Bejo; apakah ia masih berdoa hingga kini, dan apakah ada doanya yang dikabulkan Tuhan.
"Jelas masih, ada sih doaku yang dikabulkan Tuhan ketika aku berdoa agar lulus ujian SMA," ungkap Bejo.
"Apakah waktu itu kamu cuma berdoa saja tidak belajar ?" tanya Ucok lagi.
"Ya nggak lah. Kita dianjurkan agama berdoa tapi juga tetap berusaha. Aku belajar waktu itu agar lulus," jawab Bejo.
"Betul itu. Kalau berdoa saja tanpa usaha; kecil kemungkinan berhasil. Berusaha saja tapi tak berdoa; kalau berhasil; ini kan kurang berkah," Bu Mimin ikut nimbrung dengan gaya seperti Mama Dedeh, seorang Ustazah kondang.
"Bagaimana kalau sudah berusaha, berdoa juga tapi gagal ?" tanya Ucok.
"Kalau menurut yang kudengar dari ceramah seorang Ustad; itu karena Tuhan punya rencana lain yang lebih baik," sahut Bu Mimin pula.
Ucok dan Bejo sama-sama diam mendengar penjelasan Bu Mimin yang setahu mereka tak pernah lepas dari busananya yang agamis.
"Aku tak percaya lagi dengan segala macam doa," gumam Ucok nyaris tak terdengar namun Bejo masih bisa mendengarnya karena jarak mereka duduk tak seberap jauh.
"Apa ? Kamu tak percaya doa ? Berarti kamu sama saja tak percaya Tuhan," cetus Bejo dengan suara yang ditekan sepelan mungkin agar tak terdengar Bu Mimin.
"Begitulah kira-kira. Aku percaya jika setiap doaku selalu dikabulkan tanpa harus menunggu lama," jawab Ucok.
"Waduh, nggak begitu bro. Tuhan itu tak cuma melayani kamu saja, tapi melayani setiap manusia," ujar Bejo sekenanya.
"Itulah mas. Ini soal keyakinan dan logika yang jadi pilihan tiap orang; aku memilih logika daripada tetap yakin tapi di luar logika," kata Ucok.
Mereka berdua berdiam beberapa saat, sementara Bu Mimin sedang asyik menggoreng sesuatu di dapur warungnya.
"Sudahlah mas, pembicaraan tadi anggap saja diskusi ringan. Pilihan pada diri masing-masing," ujar Ucok akhirnya.
"Yo'i bro, lain kali kita sambung lagi," sahut Bejo.
Hampir bersamaan Ucok dan Bejo membayar minuman dan makanan yang mereka konsumsi. Mereka pun keluar meninggalkan warung Bu Mimin dengan pikiran masing-masing. ©ISP
910 Pengunjung
Tags
Filsafat
