Didukung Oleh Investing.com

Bulan Sabit Dikaitkan Dengan Berhala Hubal, Dewa Tertinggi Kaum Quraisy


Jurnalisia,
Lambang Bulan Sabit, dalam konteks sejarah dan budaya, simbol ini bermakna kemenangan, terang, harapan, serta identik dengan dunia Islam (terutama sejak Turki Utsmani) dan penanda waktu ibadah,  juga melambangkan feminitas dan intuisi dalam berbagai tradisi.

Bulan sabit digunakan untuk menandai awal bulan Hijriyah dan hari besar Islam, seringkali menjadi penanda waktu ibadah haji. Simbol ini diadopsi oleh Turki Utsmani setelah penaklukan Konstantinopel (Istanbul kini) pada tahun 1453 untuk melambangkan kemenangan dan kejayaan.

Dalam berbagai tradisi kuno, Bulan Sabit dikaitkan dengan Dewi (seperti Artemis/Diana) yang melambangkan kesuburan, perlindungan, dan energi feminin. Hubal adalah satu diantara berhala utama yang disembah oleh masyarakat Arab pra Islam khususnya suku Quraisy di Mekah, dan sering diidentifikasi sebagai Dewa Bulan atau Dewa Peramal.


Hubal adalah berhala terpenting di dalam Ka'bah sebelum Islam, bahkan sering dianggap sebagai Dewa tertinggi di kalangan Quraisy. Patungnya berbentuk manusia, konon terbuat dari batu akik merah dengan tangan emas, dan digunakan untuk praktik ramalan dengan anak panah.

Berhala Hubal ini dibawa ke Mekah dari Syam (Syria) oleh seorang bernama Amr bin Luhay, tokoh yang dianggap membawa penyembahan berhala ke Arab. Setelah pembebasan kota Mekah (Fathu Makkah), patung Hubal dihancurkan oleh umat Islam.

Meskipun Hubal sering dikaitkan dengan bulan dalam beberapa literatur, identitas spesifiknya sebagai "Dewa Bulan" dalam konteks budaya Arab pra Islam masih menjadi subjek kajian. Penting untuk dicatat bahwa Hubal adalah entitas terpisah dari ajaran tauhid Islam. ©Jurnalisia™ 
đź‘€ 


Lebih baru Lebih lama