Kitab yang ditulis pada abad ke 18 ini masih digunakan secara aktif hingga saat ini, khususnya untuk belajar ilmu fikih.
Kitab Sabilal Muhtadin, ditulis pada tahun 1193 H (1779-1780 M) oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan; atas permintaan Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahmidillah dari Kesultanan Banjar.
Sabilal Muhtadin ini digunakan secara luas di Asia Tenggara terutama Indonesia khususnya sangat populer di kalangan pesantren dan masyarakat Banjar Kalimantan, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, hingga Kamboja, Laos, dan Vietnam. Kitab fikih mazhab Syafi'i ini juga dipelajari di pusat studi Islam seperti Mekah Arab Saudi, Mesir, dan Turki.
Kitab tersebut menggunakan bahasa pengantar dalam Bahasa Melayu. Di Malaysia dan Thailand (bagian selatan) digunakan sebagai referensi pengajaran. Dari nama kitab inilah diambil nama untuk mesjid terbesar di Kalsel yakni Mesjid Sabilal Muhtadin. ©Jurnalisia™
đź‘€ 6422
Tags:
Religi
