Filsafat | Tuhan Mestinya Menyeragamkan Bahasa Sebelum Mengutus Nabi - Jurnalisia™

  • Jurnalisia™

    Mengusung Kearifan Lokal

    Jurnalisia™

    Sumber Data Cuaca: https://cuacalab.id

    Selasa, 06 Januari 2026

    Filsafat | Tuhan Mestinya Menyeragamkan Bahasa Sebelum Mengutus Nabi


    Jurnalisia,
    Hal yang paling berbahaya adalah jika kita berhenti bertanya dan berhenti untuk tahu, sehingga pengetahuan pun terhenti.

    Begitupun pertanyaan tentang Tuhan dan agama. Di era modern ini pertanyaan apapun dengan mudah dapat menemukan jawaban melalui berbagai saluran tak terkecuali pertanyaan-pertanyaan tentang agama dan Tuhan.

    Misalkan saja tentang Tuhan; apakah Tuhan itu ada atau Tuhan hanyalah konsep abstrak manusia yang menghasilkan entitas yang abstrak pula kemudian dianggap sebagai sesuatu yang serba maha.

    Kemudian tentang agama; yang diperkirakan jumlah seluruh agama di dunia ini antara 4.000 hingga 4.300 agama; yang masing-masing punya Tuhan, yang berarti terdapat ribuan Tuhan. Tiap agama itu pun masing-masing mengklaim sebagai agama yang benar dan bahkan terdapat diantaranya yang mengklaim satu-satunya paling benar.

    Pertanyaannya adalah; mengapa banyak sekali agama ? Karena menurut tak sedikit orang bahwa agama-agama itu buatan para manusia jenius di jamannya, meskipun terdapat sejumlah agama terutama agama besar yang mengklaim agama mereka berasal dari Tuhan melalui manusia utusan yang disebut Nabi maupun Rasul.

    Bahkan terdapat agama yang mengklaim sebagai paling benar dan satu-satunya untuk seluruh manusia yang berbeda-beda bahasa; yang bahkan berbeda bahasa dari Sang Utusan itu sendiri. Bagaimana mungkin Tuhan mengutus "Orangnya" untuk manusia yang diperkirakan terbagi dalam sekitar 7.000-an bahasa; yang sudah barang tentu mereka tak mengerti apa yang disampaikan oleh Sang Utusan dengan bahasa yang digunakan Utusan itu.

    Kalau memang Tuhan itu ada dan menciptakan satu agama yang benar untuk seluruh manusia, seharusnya Tuhan yang konon Maha Tahu itu; terlebih dulu membuat seluruh manusia dengan sekitar 7.000-an bahasa berbeda itu menjadi 1 bahasa saja, kemudian barulah Tuhan mengutus Nabi maupun Rasul lengkap dengan kitab suci yang dapat dimengerti dan dipahami oleh seluruh manusia pula; bukan kitab suci yang harus terlebih dulu diterjemahkan, kemudian ditafsirkan pula agar manusia benar-benar paham.

    Bayangkan saja andai di era modern ini Tuhan mengutus seorang Nabi ataupun Rasul dari Bangsa Jepang yang tentu saja berbahasa Jepang dengan kitab suci yang ditulis dalam aksara/huruf Kanji baik Katakana maupun Hiragana, lalu Tuhan mengutus Sang Nabi/Rasul ini ke kumpulan suku-suku di Papua, atau suku-suku di pedalaman Kalimantan; sudah pasti Sang Nabi/Rasul itu akan dianggap sebagai orang asing yang gila.

    Nah, silakan disimak dan dipahami, namun cobalah untuk melepas dulu doktrin dan dogma agama yang ada; agar dapat berpikir jernih. ©Jurnalisia™
    👀 11226    


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.

    Beranda

    ... ...