Religi | Hukum Memperingati Hari Kematian, Selamatan dan Tahlilan - Jurnalisia™

  • Jurnalisia™

    Mengusung Kearifan Lokal

    Jurnalisia™

    Sumber Data Cuaca: https://cuacalab.id
    Website Ini Telah Dilihat 98,18 Juta Kali

    Minggu, 12 Maret 2023

    Religi | Hukum Memperingati Hari Kematian, Selamatan dan Tahlilan

    Religi,
    "Hukum mengadakan selamatan yang disertai dengan doa yang dipaketkan itu; doa tahlil, yasin, dan sebagainya, mengirim pahala, membaca Alquran; mungkin berapa ayat yang dibaca, sampai ada yang mengkhatamkan dan diniatkan pahalanya untuk dikirim kepada orang yang meninggal; menurut penelitian Majelis Tarjih (Muhammadiyah, Red) hal seperti itu tak ada tuntunannya di dalam Islam," jelas Ustadz Dr. Syamsul Hidayat, M.Ag menjawab pertanyaan seorang penanya seputar hukum memperingati hari kematian, selamatan dan tahlilan.

    Menurut Ustadz Syamsul, selamatan 3 hari, 7 hari dan seterusnya; itu sebenarnya adalah sisa-sisa peninggalan ajaran agama yang hidup di Indonesia khususnya di Nusantara pada umumnya.

    "Jadi kalau disebut Nusantara itu, ya meliputi Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei terutama itu ya, mungkin masuk Thailand Selatan itu dan Philipina; karena itu semua adalah daerah Islam dulunya, daerah-daerah Muslim. Philipina itu adalah Kerajaan Islam sangat besar, kemudian di Kamboja juga begitu Kerajaan Islam yang sangat besar kita kenal dengan Kerajaan Champa, bahkan orang Jawa mengenal padi dari sana; pari cempo itu dari Kamboja," kata Ustadz Syamsul pula.

    Jadi tambah Ustadz, negara-negara yang disebut itu merupakan kawasan Nusantara yang dari segi proses dakwahnya hampir sama bahwa Islam datang sebelumnya ada agama yang sudah hidup disitu apakah itu agama asli yang disebut animisme dan dinamisme; kepercayaan akan roh maupun juga agama-agama yang lain seperti Hindu dan Budha. 

    "Hingga pengaruh ini masih hidup di masyarakat ketika masyarakat itu sudah memeluk Agama Islam. Apalagi kalau kita baca sejarah para Wali Songo itu didalam mendakwahkan Islam di Tanah Jawa; sangat memperhatikan kondisi masyarakat Jawa, sehingga melakukan penyesuaian-penyesuaian, dan peringatan-peringatan itu digunakan sebagai alat untuk dakwah; hanya diganti isinya," jelas Ustadz Syamsul pula.

    Selanjutnya Ustadz Syamsul, "konon diantara para Da'i Wali Songo itu ada perdebatan; mengapa kita melakukan ini, bukankah ini nanti akan dipercaya dan dianggap sebagai agama oleh penerus-penerus kita (?) Diantara Wali Songo itu ada yang mengatakan kalau tidak salah Sunan Kudus; yang memang agak puritan, kemudian juga Sunan Gunung Jati; mereka berdua ini mengatakan nanti pada saatnya akan datang generasi-generasi dakwah yang akan meluruskan, yang akan membenarkan, memurnikan, diantaranya lahir gerakan Muhammadiyah ini, mungkin juga gerakan-gerakan lainnya seperti Persatuan Islam (Persis) atau Al Irsyad yang mencoba mendakwahkan Islam bersumber kepada Alquran dan Asunnah, dan mungkin juga muncul Da'i-Da'i muda yang memiliki pemahaman yang cukup mendalam tentang Alquran dan Assunnah." ©Jurnalisia

    Sumber : Unmuh Surakarta

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.

    Beranda