[EDITORIAL] Menuju Parlemen Tanpa Visi Misi, Rakyat Wajib Cerdas

Tak lebih dari 100 hari lagi kita akan ada, menyaksikan bahkan ikut pertunjukkan panggung demokrasi terbesar di negeri ini, Pemilu Legislatif, Pemilu Senator dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden

Ratusan bahkan ribuan Calon Legislatif  berkompetisi memperebutkan kursi empuk sebagai Legislator dan Senator, tak terkecuali di Kabupaten Kotabaru, kabupaten yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah ini memerlukan para Legislator serta Senator unggulan yang seharusnya bisa menjadi penyambung lidah rakyat di parlemen, bukan hanya sebagai penggembira yang cuma bisa teriak setuju, bukan cuma hanya bisa datang, duduk, diam dan duit.

Banyaknya Caleg ini harusnya bisa memberikan warna pada demokrasi di era modern bukan memberikan warna tambahan pada buruknya kinerja parlemen. Caleg pintar sudah seharusnya bisa menyampaikan visi misi bukan cuma pamer foto di pinggir jalan dan di pinggir kali. 

Tak sedikit Caleg yang cuma mampu mengandalkan ikatan emosional; kekeluargaan dan kekerabatan, pertemanan dan persahabatan bukan mengandalkan kemampuan intelektualitas dan kredibilitas

Teringat satu perkataan dari seorang Legislator saat duduk santai tanpa menikmati segelas kopi pun. Legislator itu mengatakan menjadi Anggota Dewan itu cuma 20 persen enaknya, sisanya yang 80 persen itu ueeeenakk banget

Apakah ini yang dicari saat ada keinginan 'Nyaleg' ?. Apakah status Legislator yang dianggap terhormat yang dicari ? Bukankah dipilihnya sebagai Legislator dan Senator merupakan titipan atau amanah rakyat (?)

Jadilah rakyat yang bijak, bijak dalam menentukan pilihan, pilihlah wakil kita yang akan duduk di parlemen benar-benar sosok yang memiliki kemampuan sebagai Legislator dan Senator; yang bisa menyuarakan dan memperjuangkan nurani rakyatnya, bukan menjadi Legislator dan Senator yang hanya mampu sebagai bak penampungan aspirasi tanpa solusi

April 2019 nanti rakyat akan menentukan 5 menit yang sangat berarti untuk perjalanan pembangunan 5 tahun mendatang. Jangan sampai suara atau hak pilih anda hanya ditukar dengan beberapa lembar uang kertas puluhan ribu rupiah, karena ini jauh lebih buruh dan kalah terhormat dari seorang pelacur online yang harganya mencapai Rp 80 juta. (dbg)

Posting Komentar

Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.

Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara