Itulah sekelumit kalimat yang pas untuk diucapkan saat melihat kondisi infrastruktur khususnya akses jalan di Desa Mulyoharjo Kecamatan Pamukan Utara Kabupaten Kotabaru.
Desa Mulyoharjo yang merupakan desa transmigrasi sejak tahun 1985 lalu dulunya dikenal dengan Sebangau merupakan wilayah administrasi dari Kecamatan Pamukan Utara. Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Paser Kalimantan Timur ini mayoritas warganya adalah petani. Kelapa sawit adalah satu dari sekian usaha warga desa yang hingga saat ini masih terkendala dalam penjualan. Hasil kebun kelapa sawit warga hingga kini belum bisa dibeli oleh Pabrik Kelapa Sawit yang berada di sekitar desa ini.
Desa Mulyoharjo yang sekarang dipimpin oleh Rahmad, S.Pd ini mulai berbenah memperbaiki tatanan kemasyarakatan dengan membangun kebersamaan dan kerukunan antar warganya.
Desa yang memiliki luas 720 km persegi dengan 312 kepala keluarga dengan total jumlah penduduk 976 jiwa dengan 60 persen dari penduduknya adalah petani dan sisanya merupakan buruh tani.
Saling dukung antar warga syarat mutlak kebersamaan dan kerukunan berjalan di desa ini. Di tengah kondisi infrastruktur khususnya akses jalan menuju ke ibukota kecamatan yang sudah puluhan tahun tidak ada perbaikan ini semangat warga desa Mulyoharjo untuk maju terus jalan.
Tidak sedikit warga mengeluhkan akses jalan ke ibukota kecamatan yang hingga belum ada perbaikan meski sudah ada kunjungan dari pemimpin daerah. Namun di balik itu semangat warga memperbaiki jalan di desa mereka berjalan lebih cepat. Dengan dana desa jalan di lingkungan desa sedikit demi sedikit diperbaiki. Bahkan akses jalan ibukota kecamatan pun tak luput dari kerja swadaya warga agar perekonomian berjalan wajar.
Mungkin warga terlalu lelah berharap karena sudah puluhan tahun mereka merasakan debu dan beceknya jalan di desa mereka.
Semangat itulah yang memotivasi warga untuk tidak cengeng menantap masa depan. Satu contoh idealisme dalam menata masa depan di tengah keterbatasan infrastruktur.
Pada momentum HUT Kemerdekaan RI ke 73 ini kembali kita merenungi hakikat dari kemerdekaan sesungguhnya. Sudahkah kita merdeka dalam Berketuhanan, merdeka dalam Kemanusiaan yang adil dan beradab, merdeka dalam Persatuan, merdeka dalam Permusyawaratan, serta apakah kita sudah merdeka dalam Keadilan Sosial.
Dalam perjalanan di Desa Mulyoharo ini kami menemukan arti Nasionalisme di tengah keterbatasan. Kemerdekaan belum sepenuhnya mereka nikmati. Debu dan tanah becek masih menghiasi tapak kaki dan badan mereka.
Saatnya Pemerintah memperhatikan kehidupan warga di perbatasan agar perekonomian dan pembangunan bisa merata agar warga bisa merasakan kemerdekaan yang sebenar-benarnya. (dbg)
Tags
infokus







