![]() |
| courtesy : jurnalistik.co |
Pada belasan tahun lalu jangan membayangkan yang namanya media sosial, micro blogging, messenger dan lainnya yang sejenis, jaringan telpon seluler saja masih terbatas di beberapa kawasan. Yang namanya telpon genggam kala itu merupakan barang mewah yang bagi penggunanya adalah prestise tersendiri.
Kala itu media cetak; koran, tabloid, dan majalah masih menempati singgasananya sebagai media unggulan yang banyak diminati dan dicari oleh para pembacanya. Dan saya sebagai Jurnalis media cetak kala itu pun tentu sedang bangga-bangganya bisa menjadi Jurnalis yang belum tiap orang dengan mudah dapat menjadi seperti saya. Apalagi kala itu saya berkerja pada satu koran yang berhome base dan terbit di Surabaya ibukota Propinsi Jawa Timur.
"Koran kita ini merupakan koran nasional, meskipun terbit hanya tiap minggu, hebat pokoknya," ujar Kepala Perwakilan Daerah yang membawahi saya kala itu.
Saya pun ikut bangga mendengarnya tanpa bertanya macam-macam terkait koran yang dikatakan nasional itu. Yang ada dalam benak saya hanyalah mencari berita dan mengirimkannya ke redaksi agar tiap koran terbit terdapat berita saya yang dimuat.
Keingintahuan saya menjadi terusik setelah sekian lama menjadi Jurnalis media cetak ketika terdapat beberapa orang yang bertanya; oplah koranmu berapa tiap kali terbit ? Koranmu ini dijual dimana saja ? Apakah koranmu ini dijual dan bisa diperoleh di tiap daerah di Indonesia ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya membuat saya melongo dan tak dapat menjawabnya. Karena memang saya tak mengetahui apa yang jadi pertanyaan semua itu. Tahunya saya adalah tiap koran terbit dikirimi oleh redaksi melalui Kepala Perwakilan sebanyak antara 50 hingga 100 eksemplar, yang kesemuanya itu harus saya jual dan saya bayar untuk yang laku dan dikembalikan jika tak lalu.
Meskipun cukup memakan waktu lama akhirnya beberapa pertanyaan yang menggelisahkan saya itu pun dapat terjawab ketika saya memutuskan berhenti sebagai Jurnalis di koran mingguan yang sudah pernah andil memperkenalkan nama saya ke ranah jurnalistik itu. Bersama seorang teman saya mendirikan perusahaan dan menerbitkan koran mingguan sendiri. Dengan jalan ini saya pun jadi mengerti seluk beluk penerbitan media cetak, apalagi saya memutuskan mencetak koran mingguan kami di satu percetakan di Surabaya disebabkan pertimbangan harga dan mutu cetakan.
Untuk dapat mengetahui berapa oplah per edisi koran mingguan bekas tempat saya berkerja dulu, saya pun mencetak koran di percetakan yang sama.
Disinilah saya jadi tahu jumlah oplah koran mingguan 'nasional' yang dulu sempat saya bangga-banggakan, oplahnya ternyata hanya 1.000 eksemplar per edisi, dan jumlah ini dibagi ke beberapa daerah di luar Surabaya yang terdapat perwakilan koran itu, yang masing-masing mendapatkan antara 50 hingga 100 eksemplar.
Saya tak cuma tahu jumlah oplah koran mingguan bekas tempat saya berkerja dulu, tapi juga tahu jumlah oplah beberapa koran mingguan yang berhome base di Surabaya yang ngakunya sama sebagai koran nasional; oplahnya ya lebih kurang segitu antara 1.000 hingga 2.000 eksemplar per minggunya.
Hebat, semut yang mengaku gajah, sangat percaya diri. Dengan oplah hanya seribuan per minggu tapi berani mensejajarkan diri dengan raksasa semisal koran Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia dan lainnya yang oplahnya justru belasan hingga puluhan ribu per hari dan tersebar pula di seluruh propinsi di Indonesia.
Yah begitulah adanya, saya jadi senyum-senyum sendiri bila mengingat kalimat 'koran nasional' yang terbit dengan oplah seribuan tiap minggu, dan beritanya sering terlambat dan nyaris basi. Dan hingga hari ini koran-koran seperti ini masih eksis dan Jurnalisnya masih membanggakannya sebagai koran nasional meski cuma dibaca oleh orang-orang tertentu itu pun si Jurnalisnya mesti menyambangi orang agar mau membeli dan membaca korannya, dan harganya lebih mahal dari harga koran harian paling ternama sekalipun.
Tags
infokus

