Anda Pengunjung ke 229.344.222

Penambahan Tanda Baca di Alquran


Jurnalisia,
Alquran pada masa awal, terutama pada masa Nabi Muhammad SAW dan awal kekhalifahan (termasuk Mushaf Utsmani generasi pertama), ditulis tanpa harakat (baris fathah, kasrah, dhommah, sukun) dan tanpa titik pada huruf-huruf tertentu. 

Mushaf awal ditulis hanya dengan rasm (batang tubuh huruf/aksara Arab dasar) tanpa bantuan tanda baca. Huruf-huruf seperti ب (ba), ت (ta), dan ث (tsa) ditulis serupa tanpa titik pembeda. Alasannya pada masa Nabi dan sahabat awal, orang Arab adalah penutur asli (native speakers) bahasa Arab yang fasih, sehingga mereka bisa membaca dan memahami konteks kalimat dengan tepat meskipun tanpa harakat.

Tanda baca (harakat) dan titik pembeda huruf baru ditambahkan secara bertahap belakangan, terutama pada masa Dinasti Umayyah, ketika Islam menyebar ke luar Arab dan banyak Non Arab (Ajam) yang kesulitan membaca Alquran. 


Ulama yang tercatat pertama kali memulai pemberian tanda baca (dot/nuqath) adalah Abu Aswad Ad-Duwali atas perintah Gubernur Basrah, Ziyad bin Abih, pada masa pemerintahan Bani Umayyah. 

Ringkasan perkembangan; Masa Nabi-Utsman; tanpa harakat dan tanpa titik (Arab gundul), Masa Bani Umayyah; penambahan titik untuk harakat (nuqath al-i'rab) oleh Abu Aswad Ad-Duwali. Masa lanjutan; penambahan titik untuk membedakan huruf (nuqath al-i'jam) dan penyempurnaan bentuk harakat oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi. ©Jurnalisia™ 
 359 Pengunjung 
Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara