Hajar Aswad, batu hitam di sudut tenggara Ka'bah, memiliki kedudukan istimewa dalam Islam sebagai batu yang diklaim diturunkan dari surga. Secara mitologis dan historis, pemujaan atau penghormatan terhadap batu langit (meteor) atau batu-batu khusus bukan hanya terjadi dalam tradisi Islam, tetapi juga ditemukan di berbagai peradaban kuno lainnya.
Batu Hitam Cybele (Yunani/Romawi Kuno); Dewi kesuburan Anatolia, Cybele, sering kali diwujudkan dalam bentuk batu hitam suci yang diyakini jatuh dari langit. Batu ini dibawa dari Pessinus ke Roma sebagai benda suci.
Betyl/Betylos (Suku Semit Kuno); istilah ini berasal dari bahasa Semit Beth-El yang berarti "Rumah Tuhan". Batu-batu ini dipercaya sebagai kediaman Tuhan atau tempat Tuhan menampakkan diri. Batu hitam sering dianggap memiliki kesucian khusus, mirip dengan peran Hajar Aswad sebagai perantara langit dan bumi.
Batu Merah & Putih (Arab Pra-Islam); sebelum Islam, masyarakat Arab Jahiliyah memuja bebatuan. Beberapa batu khusus yang disembah selain batu hitam antara lain "batu merah" yang dikaitkan dengan dewa di Ghaiman, serta "batu putih" di Ka'bah al-Abalat dekat Tabalah.
Meteorit di Mesopotamia; banyak budaya Mesopotamia kuno memuja meteorit yang jatuh ke bumi, menganggapnya sebagai pesan atau anugerah dari dewa-dewa langit, serupa dengan narasi Hajar Aswad yang turun dari surga.
Meskipun bukan mitologi kuno, kajian ilmiah modern mengaitkan Hajar Aswad dengan impaksit (kaca hasil tumbukan meteorit) dari kawah Wabar di gurun Rub' al-Khali, Arab Saudi. Karakteristik fisik kaca Wabar—hitam mengkilap di luar dan putih berpori di dalam—sangat mirip dengan deskripsi Hajar Aswad.
Kemiripan ini menunjukkan bahwa batu hitam atau meteorit secara universal di berbagai budaya dianggap sebagai objek suci yang menghubungkan dunia manusia (profan) dengan dunia ilahi (suci). ©Jurnalisia™
đź‘€
Tags:
Mitologi
