Jurnalisia,"Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan."
Itulah bunyi Sila ke 4 dari Pancasila; yang mana terdapat frasa "perwakilan", yang mengisyaratkan demokrasi yang diwakili atau diwakilkan yang dalam hal ini lembaga legislatif yakni DPR dan DPRD; karena frasa ini berhubungan erat dengan frasa pertama yakni "kerakyatan".
Pancasila adalah "Dasar Negara" Indonesia; yang seharusnya dari sini semua bermula terkait aturan negara; sebagai blue print untuk menentukan apapun untuk mengatur rakyat.
Sila ke 4 secara sederhana adalah; Kerakyatan dan Perwakilan yang menghasilkan Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) atau DPR dan DPRD yang dipilih melalui Pemilu oleh seluruh rakyat yang memenuhi persyaratan. Seluruh rakyat sudah terwakili melalui DPR dan DPRD sebagai lembaga yang mewakili supremasi rakyat dalam sistem demokrasi.
Sudah sewajibnya DPR dan DPRD mendapatkan fungsinya mewakili seluruh rakyat tak terkecuali memilih Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, bukan malah rakyat direpotkan kembali memilih langsung.
Kalau setelah keberadaan DPR dan DPRD, namun rakyat masih memilih Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan; Presiden hingga Ketua RT, ini sama saja mengebiri fungsi DPR dan DPRD, lalu untuk apa keberadaan lembaga legislatif dengan fungsi terbatas itu yang bahkan tak sesuai dengan Pancasila ?
Pemilihan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan melalui DPR dan DPRD seperti di era Orde Baru; disamping mengembalikan lembaga legislatif itu ke fungsinya secara penuh, juga akan mengurangi biaya politik, dan lebih kondusif.
Sejumlah Partai Politik yang mendukung Pilkada kembali ke DPRD; menunjukkan kesadaran dan pemahaman mereka kepada Dasar Negara Pancasila serta sistem demokrasi; demos, kratos, pemerintahan oleh rakyat yang diwakili oleh DPR dan DPRD. Para Partai Politik itu tampaknya sudah kembali berpikir lebih serius memulai menata sistem pemerintahan daripada sekedar euforia politik 5 tahunan yang menghasilkan kegembiraan sesaat dan menghamburkan banyak uang negara. ©Jurnalisia™
👀 5520


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.