Jurnalisia,
Gelombang protes melanda Iran, yang terperangkap dalam krisis ekonomi yang dalam, ditandai dengan penurunan nilai mata uang Rial Iran; yang belum pernah terjadi sebelumnya dan inflasi yang melonjak.
Dikutip dari Deutche Welle, krisis ekonomi telah menyebabkan Rial Iran, jatuh ke titik terendah sepanjang masa yaitu 1,4 juta Rial per Dolar AS. Sementara itu inflasi telah melonjak hingga lebih dari 42 persen, mendorong kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Persediaan makanan pokok dapat dengan mudah menghabiskan seluruh gaji satu bulan.
"Ketidakpuasan terhadap rezim telah mencapai puncaknya di semua sektor," kata Kasra Qaredaghi, seorang mahasiswa doktoral dalam ilmu politik di Universitas Central Florida di AS. "Berdasarkan satu survei, ketidakpuasan mencapai 92 persen."
Pemerintah Iran telah dituduh melakukan korupsi yang meluas, sementara para pengunjukrasa juga menuduh pihak berwenang memprioritaskan dukungan untuk kelompok proksi di luar negeri — seperti militan Palestina Hamas dan kelompok Hizbullah Lebanon — daripada kesejahteraan domestik, serta menekan kebebasan.
"Bahkan jika rezim berhasil menekan protes-protes ini, tanpa perubahan politik yang mendalam dan kesepakatan komprehensif dengan Barat — terutama AS — yang mengarah pada pencabutan sanksi dan reintegrasi Iran ke dalam persamaan ekonomi global, protes publik pasti akan kembali ke jalanan," kata Kasra Qaredaghi pula. ©Jurnalisia™
👀 3317


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.