Iwak Wadi, Ikan Fermentasi Khas Banjar - Jurnalisia™

  • Jurnalisia™

    Mengusung Kearifan Lokal

    Jurnalisia™

    Sumber Data Cuaca: https://cuacalab.id

    Minggu, 11 Januari 2026

    Iwak Wadi, Ikan Fermentasi Khas Banjar


    Jurnalisia,
    Selain Soto Banjar yang sudah dikenal di seluruh Indonesia, Suku Banjar Kalimantan memiliki kuliner yang juga tergolong khas yakni Iwak Wadi.

    Kuliner ini merupakan fermentasi ikan khas Banjar (Kalimantan Selatan) dan Kalimantan Tengah, yang dibuat dengan melumuri ikan; biasanya patin, nila, papuyu/betok, atau sepat dengan garam dan samu (beras ketan disangrai) lalu didiamkan beberapa hari. Rasanya asin-gurih-asam, sering diolah dengan cara digoreng atau betanak (dimasak santan). 

    Bahan yang dibikin Iwak Wadi; kebanyakan merupakan ikan yang mati dengan sendirinya, bukan ikan hidup atau segar yang sengaja dibuat mati. Ikan papuyu (betok), sepat, biawan, puyau dan lampam adalah jenis ikan yang paling sering dijadikan wadi.


    Proses pembikinannya; ikan dibersihkan, dibalur garam, didiamkan 1-2 hari, lalu dilumuri samu dan disimpan dalam wadah/tempat tertutup yang sangat rapat sehingga tak mudah dimasuki serangga terutama lalat yang dapat menyebabkan ikan berulat. Hasil fermentasi nantinya menghasilkan aroma khas dengan rasa asin dan sedikit masam.

    Cara memasak Iwak Wadi yang paling populer adalah digoreng langsung atau dimasak wadi betanak; ditumis/direbus dengan santan, bawang, cabai, dan serai.

    Iwak wadi dapat bertahan selama berbulan-bulan; bisa mencapai 6 bulan bahkan lebih. Wadi sering disajikan sebagai lauk pendamping nasi putih hangat dan merupakan satu diantara kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun diantara Suku Banjar maupun sebagian Sub Etnis Dayak. ©Jurnalisia™
    👀 4484  
     

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.

    Beranda

    ... ...