Didukung Oleh Investing.com

Syaipul Adhar, Wakil Ketua PWNU Kalsel Maju di Pilkada Tanah Bumbu 2020

Syaipul Ashar (foto : istimewa)
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdathul Ulama (PWNU) Kalsel, Syaipul Adhar, menyatakan siap maju di Pilkada Tanah Bumbu 2020. Kesiapan menjadi Kepala Daerah di Kabupaten Tanah Bumbu itu dibuktikannya dengan mengambil formulir pendaftaran di 2 partai politik yakni di Partai Golkar dan Partai Nasdem. 

Menurut Syaipul Adhar, formulir pendaftaran di 2 Parpol tersebut sudah diambil oleh timnya, Barisan SA Berlari. 

“Formulir sudah diambil oleh tim saya diwakili koordinatornya, Paulke M. Potu yang merupakan Mantan Ketua HIPMI Tanah Bumbu, tadi siang,” kata Syaipul Adhar, Jumat (04/10/19).

Aktivis gerakan mahasiswa 1998 ini mengaku terpanggil untuk maju di Pilkada Tanah Bumbu 2020 karena ingin membangun tanah kelahirannya tersebut. 

Menurutnya sejak berdiri dan berpisah dari kabupaten induknya, Kotabaru pada 2003 Tanah Bumbu berhasil maju sebagai daerah baru yang memikat dan menjadi pusat pertumbuhan baru di Kalimantan Selatan, baik sebagai kawasan pertambangan, perkebunan dan perikanan di Kalimantan Selatan. 

“Akan tetapi bangga dengan kekayaan alam saja tidak cukup. Tanan Bumbu harus bangkit dan berlari. Sudah saatnya Tanah Bumbu kita bangunkan kembali. Saatnya kita bersujud dan menuhi janji pada tanah kita. Berlari menuju Tanah Bumbu yang lebih unggul, nyaman dan mandiri,” ujar Syaipul Adhar pula.

Menurutnya secara harfiah Tanah Bumbu Berlari adalah kepanjangan dari bersama realisasikan amanat rakyat (Berlari).

Syaipul Adhar yang menuntaskan pendidikan Sarjana Strata 2 di bidang Ilmu Ekonomi dengan konsentrasi perencanaan wilayah kota dan regional ini, mengaku ingin membangun Greaters Batulicin, membentuk kawasan Tanah Bumbu yang berikat dengan Ibukota Baru Negara yang telah diputuskan di Kalimantan Timur. 

“Dan yang utama menghadirkan pemerintahan yang berkerja keras serta perencanaan berdasarkan kebutuhan long term dan masterplan yang kuat. Menguatkan core business pendapatan asli daerah (PAD) dan nilai tambahnya,” pungkas Syaipul Adhar. (Rel/Red)
Lebih baru Lebih lama