Suatu gambaran miris tentang tantangan profesi Jurnalis di era milenial.
Banyak tatapan sinis kadang melirik profesi Jurnalis yang merupakan pilar keempat dalam berdemokrasi di negara ini.
Lirikan sinis sering terjadi karena sikap dan terlebih tentang tulisan sang Jurnalis. Kadang dianggap musuh karena terlalu sering memberitkan sisi negatif baik sebagai pribadi maupun institusi. Namun kiranya banyak yang lupa kritikan sang Jurnalis adalah konstrukstif, bersifat membangun namun diasalah artikan malah dianggap destruktif atau menghancurkan.
Para Jurnalis sendiri bahkan tak jarang diletakkan pada 2 sisi yang berlawanan; diadu dan dikotakkan agar timbul kesan seakan semua kesalahan ada pada Jurnalis. Bahkan tak jarang pula Jurnalis dianggap sebagai sumbu dari suatu kehancuran,dianggap menjadi kompor yang siap meledakkan api kekacauan.
Terkadang mereka juga dianggap tidak proporsional dan profesional dalam menyajikan suatu berita.
Sebenarnya mereka yang beranggapan seperti itu apakah tidak mengetahui atau pura-pura lupa jika tugas para Jurnalis berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang diatur dalam UU Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers.
Bagi mereka yang merasa keberatan atau menganggap salah suatu berita bisa menggunakan hak jawab sebagaimana yang diatur dalam UU. Tidak perlu cuap-cuap di luar ranah UU yang mungkin akan membuat mereka ditertawakan atau malah dianggap tak berpendidikan bahkan dicap 'worst educated'.
Dilematis di tengah banyaknya rasa ketidakpercayaan terhadap profesi Jurnalis, namun tidak mau memahami fungsi Jurnalis itu sendiri. Tidak cuma sebagai pribadi tapi juga secara institusi sudah saatnya melek semua UU Pers agar tidak terjebak dan menjebakkan diri akibat ketidaktahuan yang masif. Mengetahui dan memahami UU Pers sebagai UU yang bersifat Lex Spesialis; penafsiran hukum secara khusus.
Fungsi pers adalah sebagai kontrol terhadap sosial kemasyarakatan dan jalannya pemerintahan, bukan sebaliknya terkontrol untuk tidak tutup mata dan pura-pura buta terhadap fakta yang ada.
Para Jurnalis juga manusia tempatnya khilaf dan salah namun bukan menjadi tempat kesalahan. Kalaulah dikaitkan dengan idealisme memang sulit untuk dijalankan, namun idealisme bisa ditempatkan pada posisi yang realistis.
Selamat berjuang ... Jurnalis bukan hanya tentang satu kartu identitas tapi satu profesi yang dituangkan dalam suatu karya baik tulisan, audio, visual maupun gabungan dari semuanya.
"Dengan karya kita sebagai Jurnalis dikenal dan dengan karya pua kita berbuat bagi negara ini" (DBG)
Tags
infokus
