Entah sudah berapa banyak anggaran yang digelontorkan Pemkab Kotabaru ke Dinas Pariwisata yang tampak jor-joran melakukan pembenahan terhadap objek wisata terutama Taman Siring Laut yang kembali menelan anggaran sebesar lebih dari Rp 13 milyar untuk penambahan lantai beton.Yang jadi pertanyaan adalah seberapa besar pemasukan (input) yang dihasilkan oleh semua objek wisata yang telah menelan banyak anggaran tersebut, atau tepatnya berapa banyak Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang disumbangkan oleh Dinas Pariwisata ke Pemkab Kotabaru ? Semoga pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan para Anggota DPRD yang belum lama dilantik.
Jangan sampai semua objek wisata di Kotabaru itu ibarat seorang Biduan Dangdut yang berpenampilan seronok, bersuara merdu dengan joget yang bagus meski banyak dapat aplaus atau tepuk tangan dari para penontonnya tapi sangat minim duit saweran.
Atau semua objek wisata di Kotabaru terutama Taman Siring Laut cuma jadi pemakai anggaran banyak namun minim pemasukan (?)
Tidak saja Pemkab yang harus berhitung tapi juga DPRD jangan asal setujui anggaran yang diajukan. Mesti mengacu kepada skala prioritas, sehingga belanja daerah dapat seimbang dan tak terjadi defisit anggaran.
Saya mendorong pihak DPRD agar menginventarisir semua jumlah anggaran yang telah digunakan oleh Dinas Pariwisata dalam 3 tahun terakhir memanggil Dinas tersebut untuk memaparkan semua pencapaian yang diraih terkait kepariwisataan dan lebih teramat penting perhitungan pemasukan yang dikontribusikan ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena ibarat suatu usaha harus punya perhitungan antara modal yang dikeluarkan dengan pemasukan serta biaya balik modal (break event point), karena bila faktor ekonomisnya hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang, maka lebih baik memprioritaskan sektor lain semisal pembenahan masalah kesulitan air yang dialami setiap tahun. (ISP)
Tags:
infokus

