"Antara penanaman bibit Mangrove dan penebangan yang dilakukan oleh para pembalak liar sangat tak seimbang."
Itulah ungkapan dari seorang warga Desa Pulau Burung Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu yang peduli dengan kelestarian Mangrove (Bakau), yang selama ini ia merupakan seorang pelaku penanaman Mangrove terutama di kawasan Desa Pulau Burung dan Pulau Sewangi.
"Setiap hari para pembalak liar yang menebang Mangrove ini mengangkut 4 sampai 5 perahu berisi hasil tebangan yang diambil dari kawasan Pulau Tampakan dan sekitarnya," tambah warga itu.
Mangrove hasil pembalakan liar ini kebanyakan dibawa dan diperjualbelikan di kawasan Jl. Borneo Desa Sejahtera Kecamatan Simpang Empat. Pantauan Kru Media ini beberapa waktu lalu memang terdapat banyak tumpukan Mangrove yang ditebang.
Kayu Mangrove hasil tebangan liar ini kebanyakan digunakan untuk menopang bahan bangunan, dan ada pula untuk diolah menjadi bahan bangunan berkonstruksi kayu.
"Kalau keinginan kami para pembalak liar ini selain menebang Mangrove mereka juga menanam bibit, misalkan menebang 5 menanam 1," harap warga itu pula.
Menurut warga itu pula melalui CSR dari PT Enam Sembilan dilakukan pembibitan Mangrove yang berlokasi di Pulau Burung yang kini terdapat sekira 40 ribu pohon bibit, yang beberapa waktu lalu juga dipakai untuk menanam di kawasan Pulau Sewangi sebanyak 4 ribu bibit. ©Jurnalisia™
đź‘€ 187
Tags:
LIngkungan
