'Garunuman' Pengusaha Lokal saat Kue Proyek Direbut Pengusaha Luar

Ini bukan fenomena bukan pula sensasi, ini hanya merupakan suatu ungkapan kekecewaan sebagian kontraktor lokal ketika saat ngopi di satu warung di sudut tengah kota.
Ketika proyek sudah tidak bisa didapat lagi jual beli proyek pun cukup dijadikan sarana untuk mendapatkan pekerjaan. 

"Barucau" saat jam istirahat kerja menjadi kegiatan rutin untuk sekedar mencari informasi dan untung-untung bisa dapat job meski harus bagi-bagi dan mengeluarkan uang jasa. 

Suatu tidakan yang dilematis di tengah lesunya kepercayaan diri karena harus berhadapan dengan pelaksana luar yang jor-joran berebut kue-kue proyek.
Mengeluh memang bukan jalan terbaik, menyelinap di tengah persaingan mungkin jadi satu solusi meski itu sangat beresiko bergelang putih sebagai reward-nya. 

Bukan kuantitas pekerjaan yang diharapkan tetapi cukup sekedar mengisi piring nasi agar tetap terus terisi.
Kualitas bisa diuji tetapi bukan berarti mematikan pengusaha "pribumi" yang selama ini masih bisa diharapkan memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah ini.
Pengusaha pribumi (baca lokal) justru mereka akan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan karena tinggal dan hidup disini. Sudah banyak juga kontraktor dari luar yang bekerja disini namun hasilnya tak beda jauh dengan kontraktor daerah ini. 

Baca juga : Calon Pemilik 'Kursi Basah' Kotabaru di Era Digital

Akhirnya karena pengusaha dari luar lebih dipercaya, para pengusaha lokal ini pun seakan menyerah pada situasi dan kondisi saat ini, mereka berkeluh kesah kalaupun dapat pekerjaan maka harus berbagi. (dbg)
Lebih baru Lebih lama