Beberapa Wanita Lanjut Usia (Lansia) tampak terlihat dengan tekun menjahit atap dari bahan daun nipah (sejenis pohon palma) yang maaih digunakan untuk atap bangunan.
Pemandangan tersebut terlihat di Gang Borneo Desa Sejahtera Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu. Di kawasan ini sejak lama diketahui memang tempat para pengrajin atap dari daun nipah.
Mardiah, seorang pengrajin atap mengaku sudah lebih dari 30 tahun menggeluti pekerjaannya ini.
"Pokoknya sudah 30 tahunan bikin atap ini, seingat saya sejak harga kue masih Rp 5 satu," kenang Mardiah.
Para pengrajin atap ini tak semua mengerjakan miliknya, tapi sebagian besar mengambil upah dari orang lain.
"Kami hanya mengambil upah; Rp 20 ribu per seribunya. Untuk dapat membuat atap sebanyak 1.000 setidaknya perlu waktu seminggu paling cepat beberapa hari," ungkap Mardiah yang diiyakan oleh temannya sesama pengrajin yang juga sudah berumur.
Kenapa mereka tak mengerjakan sendiri tak mengambil upah ? Selain faktor usia yang sudah tua, juga dikarenakan alat angkut bahan dari tempat mengambil daun nipah ke tempat pembuatan.
"Andai saja ada dinas terkait yang peduli dan bersedia membantu alat angkut, tentu disini akan banyak bermunculan pengrajin atap, karena disini sudah sejak dulu bikin atap, dan prospeknya lumayan bagus. Selain itu ikut membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja," ungkap warga setempat.
Bayangkan betapa sulitnya mendapatkan duit sebesar Rp 20 ribu per minggu dengan mengambil upah membikin atap dari daun nipah. Tapi pekerjaan tersebut tetap dilakukan oleh puluhan warga di kawasan Gang Borneo sambil berharap ada perhatian dari pihak pemerintah setempat. (Red)
