Rahmat Akbar, Sang Penyair Dari Pesisir Tenggara Borneo


Sastra anak pesisir.

Rahmat Akbar, anak pesisir yang banyak  menghabiskan waktunya menggeluti dunia teater, sastra dan kepenulisan ini hampir tiap malam di luar rumah, baik di kedai kopi, kafe ataupun sekedar nongkrong di teras rumah untuk membicarakan hobinya bersama rekan-rekan, bahkan di tempat yang paling sepi, seperti kamar pribadi untuk menuangkan sekelumit tulisan sastranya.

Lelaki kelahiran Kotabaru 4 Juli 1993 ini, tinggal di Jalan Hasanuddin RT 06 Kelurahan Kotabaru Hilir Kecamatan Pulau Laut Utara. Anak keempat dari lima bersaudara, yang dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang buruh lepas dan ibunya pengurus rumah tangga.

Menempuh pendidikan selama 16 tahun di Kotabaru, diawali di SDN Kotabaru Hilir 1, MTSN 2 Kotabaru lulus 2008, SMAN 1 Kotabaru dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Paris Barantai Kotabaru.

Akbar menyukai sastra sejak duduk di bangku SMA, namun baru berani menyalurkannya hasratnya menulis ketika duduk di bangku kuliah sampai sekarang. Akbar seperti penulis pada umumnya, pernah mengalami pasang surut dalam menulis. Hal utama yang memperkokoh langkahnya untuk terus  berkarya dalam dunia teater, sastra dan kepenulisan adalah karena dukungan orangtua serta sekolah tempatnya berkerja.

Karya pertama Akbar diterbikan dalam satu buku antologi puisi bersama penulis Kalimantan Selatan di Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) yang ke 13 di Tanah Laut tahun 2016. Berangkat dari hasil itu Akbar semakin bersemangat menulis di media massa, baik lokal maupun nasional, seperti  Tribun Bali, Republika, Pikiran Rakyat, Hari Puisi, Padang Ekspres, Haluan Padang, Denpasar Post, Redaksi Apajake, Bangka Pos, Solopos, Riau Post, Malut Post, Jurnal Asia, Fajar Makassar, Kampoeng Jerami, Nusantara News, Horizon Difantara, Takanta.id, Majalah Cikal, Kabar Madura, Majalah Simalaba, Minggu Pagi, Medan Post, Kabarpesisir, Radar Mojekerto, Radar Bojonegoro, Radar Cirebon, Rakyat Sumbar, Radar Banyuwangi, Koran Dinamikanews, Malang Post, Analisa Medan, Magelang Ekpres, Flores Sastra, Koran Merapi, Media Kalimantan.

Karya-karya Akbar yang sudah dinikmati pecinta sastra di berbagai pelosok negeri ini antara lain Puisi Hitammu Di Tanahku, Gemuruh 1001 Kuda Padang Sabana, Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku, Pesan Jalan, Tadarus, Maumang Makna di Huma Aksara, Pesan Wakil Puputan Melawan Korupsi Bali, Hutan Hujan Tropis, Negeri Seribu Wajah, Sepanjang Jalan Tanjung Serdang dan sejumlah antologi bersama lainnya.

Selain fokus menggarap tulisan-tulisannya, Akbar yang juga seorang pengajar di SMA Garuda Kotabaru ini, membentuk kelompok penulis sastra di sekolah tempatnya bekerja yang diberi nama "Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru," yang bertujuan untuk menanamkan kepada anak asuhnya bahwa pentingnya menjadi seorang pelaku dan menjadi seorang penulis, ini terbukti Akbar beberapa kali membawa anak asuhnya memenangi beberapa lomba menulis puisi, cerpen dan membaca puisi yang disponsori oleh dinas kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Kotabaru. Di akhir perbincangan dengan awak media ini, Akbar berujar "Menulislah, maka kita akan abadi." (RNS)
Lebih baru Lebih lama