![]() |
| courtesy : theregularync |
Itulah kalimat ungkapan yang sudah tak asing kita dengar, maknanya jangan menilai seseorang dari penampilannya. Namun memang sudah lazim menilai seseorang untuk pertama kali dari penampilannya, karena memang tampak dari luar itulah yang dilihat pertama kali.
Bisa saja orang salah menilai seseorang karena melihat parasnya yang memelas lalu diasumsikan wajah orang miskin meski berbusana bagus, atau sebaliknya paras menawan berbusana jelek lalu dikira orang kaya yang sedang menyamar jadi orang miskin.
Yang jelas kaya atau miskin status ekonomi seseorang tak dapat dinilai dari paras atau wajah. Tak ada kriteria seseorang itu berwajah miskin ataupun kaya. Penampilan pun tak bisa dijadikan tolok ukur meski ini tidak secara global, per kasus, misalkan saja Mendiang Bob Sadino, yang penampilannya sama sekali tak mencerminkan kalau dia adalah orang kaya, pengusaha sukses.
Saya jadi ingat seorang teman saya saat remaja, sebut saja namanya Amir. Teman saya ini nyaris seumur hidupnya tak pernah berkerja dalam arti mengeluarkan tenaga tapi dengan keahliannya bicara ditambah penampilannya yang selalu rapi, parlente, sehingga tak sedikit orang menyangka teman saya ini dari keluarga kaya: dibekali wajah tampan, kulit bersih dan lumayan tinggi.
Nah, ternyata wajah tak bisa dijadikan ukuran. Dan wajah seseorang pun tak bisa mewakili etnis tertentu. Tak sedikit orang berkulit bersih, mata sipit tapi dia sama sekali tak ada hubungannya dengan etnis Tiongkok, apalagi wajah seseorang mewakili kondisi ekonomi seseorang; muka miskin, muka kaya, muka goblok, muka intelek dan lainnya, jelas tidak dapat dijadikan pembenaran dan cenderung pelecehan.
Orang yang baik tentu tak menjadikan soal wajah siapa saja sebagai bahan olok-olok apalagi menyangkut etnis, kerurunan bahkan agama. Ingat peristiwa Khabib Nurmagomedov, Pendekar UFC yang berang terhadap lawannya Conor Mcgregor.
Jangan sampai karena menjadikan wajah seseorang sebagai bahan olokan, sehingga urusannya ke Pengadilan. (Red)
Jangan sampai karena menjadikan wajah seseorang sebagai bahan olokan, sehingga urusannya ke Pengadilan. (Red)
Tags
Editorial

