Mappanre Tasi, Pesta Bugis di Tanah Banjar

Waktu itu bulan April 2026, seperti tahun-tahun sebelumnya kembali dilaksanakan Pesta Rakyat yang bertajuk mappanre tasimengambil lokasi di Pantai Pegatan Kabupaten Tanah Bumbu yang berada di bibir Laut Jawa, sekitar lebih dari 200 kilometer ke arah tenggara dari Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan.

Pesta Rakyat yang lebih tepatnya dilaksanakan oleh para warga Nelayan yang bermukim di tepi pantai tersebut, telah ada sejak puluhan tahun silam. Mappanre tasi, inilah nama yang diusung oleh para Nelayan penyelenggara pesta, kata dalam bahasa etnis Bugis yang secara harfiah berarti memberi makan laut. Memang warga yang bermukim di tepi pantai tersebut merupakan keturunan dari etnis Bugis yang berasal dari pulau tetangga Borneo/Kalimantan, yakni pulau Sulawesi/Celebes.

Keberadaan etnis Bugis di wilayah bagian tenggara pulau Borneo sudah sejak ratusan tahun lalu. Nenek moyang mereka pertama kali bermukim dan menetap disana atas seijin Kesultanan Banjar setelah ikut membantu memadamkan pemberontakan yang mengancam keutuhan Kerajaan Banjar.




Para keturunan etnis Bugis yang mendiami wilayah pesisir “Tanah Banjar” ini terus berkembang pesat disamping kedatangan para etnis Bugis yang merupakan kenalan maupun kerabat mereka.

Di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, etnis Bugis merupakan etnis yang berjumlah cukup besar disamping etnis Banjar yang merupakan pribumi perpaduan antara sejulah suku dan Dayak. Bahkan etnis Bugis termasuk yang dominan menguasai banyak bidang termasuk di pemerintahan, tentunya dengan tetap bersinergi dengan etnis Banjar.

Pesta Mappanretasi pada awalnya hanya dikenal di kalangan etnis Bugis, itupun cuma di sekitar wilayah dimana para nelayan bermukim. Entah kapan persisnya pesta tersebut keluar dari lingkungan etnis nelayan Bugis, yang jelas sekitar tahun 1984 pesta tersebut dilaksanakan cukup ramai, dan dikunjungi orang-orang dari barbagai daerah di luar Tanah Bumbu (kala itu masih bersatu dengan Kabupaten Kotabaru). Kemungkinan disamping untuk menikmati keindahan Pantai Pegatan dan ziarah ke makam seorang Ulama yang terdapat di sekitar pantai tersebut, juga menonton acara pesta nelayan itu.

Dengan nama pesta bertajuk “memberi makan laut” itu, pesta tersebut sempat dilarang oleh Pemerintah Orde Baru ketika Menteri Agama dijabat oleh Munawir Sadzali. Kementerian Agama RI menuding pesta nelayan itu sebagai terkait syirik, ini mengingat agama yang dianut oleh mayoritas para nelayan etnis Bugis itu adalah Islam.

Larangan terhadap pesta nelayan tersebut ternyata tidak bersifat final. Pihak Kementerian Agama memberi opsi dengan saran agar mengganti nama pesta berserta prosesi ritual yang disesuaikan dengan tuntunan Islam.
Untuk tidak sampai pesta terhambat dan terhenti, maka pihak Panitia pun mengganti tajuk Mappanre tasi dengan Mappanre ri tasi'e yang bermakna makan-makan di laut atau pesta laut.


Penggantian tajuk pesta itu ternyata cukup berdampak bagi pesta yang dilaksanakan Para pengunjung yang datang ke pesta Mappanre ri tasi e tak sebanyak penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Entah bagaimana akhirnya pesta para nelayan tersebut kembali menggunakan tajuk Mappanre tasi, bahkan pesta tersebut justru dimasukkan ke dalam agenda tujuan pariwisata daerah Kalimantan Selatan, belakangan meningkat menjadi agenda tujuan pariwisata nasional.

Dikarenakan waktu penyelenggaraan yang cukup lama serta terkait pendanaan yang juga cukup besar, pelaksanaan pesta tersebut diambil alih oleh Pemkab melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata. Dengan demikian yang terlibat dalam penyelenggaraan pesta nelayan tersebut tak lagi cuma yang berasal dari etnis keturunan Bugis, tapi seluruh etnis yang berada di wilayah Tanah Bumbu.
Prosesi ritual pesta nelayan yang menjadi inti pelaksanaan seluruh rangkaian pesta, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rejeki-Nya; dilaksanakan pada hari terakhir atau puncak pesta yang seluruh rangkaiannya menghabiskan waktu selama 15 hari.


Pelaksanaan pesta rakyat selama 15 hari itu diisi oleh berbagai pertunjukan budaya, seni, tausiyah agama, pameran pembangunan dan hasil kerajinan lokal. Seperti biasanya Panitia mengundang para Artis terkemuka, juga para Ustad. ©Jurnalisia™ 
đź‘€ 26790 


Warga Pasar

I'm a Journalist

Posting Komentar

Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.

Lebih baru Lebih lama

Translate

English French

Pariwara