Pergerakan mata uang Asia pada tahun 2025 menunjukkan perbedaan yang mencolok, dengan Ringgit Malaysia muncul sebagai mata uang dengan kinerja terkuat, menguat sebesar +9,78%. Pemulihan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan investor, neraca eksternal yang lebih kuat, dan kondisi ekonomi regional yang mendukung, menempatkan Ringgit di puncak peringkat kinerja mata uang Asia.
Diikuti oleh Baht Thailand, yang menguat +9,41%, menandai pemulihan yang kuat yang didorong oleh kebangkitan pariwisata dan stabilisasi fundamental makroekonomi. Di tempat ketiga, Dolar Singapura mencatat kenaikan yang solid sebesar +5,94%, menggarisbawahi reputasi Singapura sebagai tempat aman regional yang didukung oleh kebijakan moneter yang bijaksana dan stabilitas keuangan.
Di luar tiga besar, beberapa mata uang Asia mencatatkan kenaikan moderat, termasuk Dolar Taiwan Baru +5,12% , Yuan Tiongkok +4,03%, Peso Filipina +2,78%, Won Korea Selatan +2,65%, Dong Vietnam +1,15%, dan Yen Jepang +0,98%.
Rupiah Indonesia melemah -3,14%, Rupee India turun -4,73%, juga Taka Bangladesh -6,20%, Rupee Pakistan -12,50%, dan Lira Turki berada di peringkat terlemah dengan penurunan tajam -18,40%, menyoroti tantangan ekonomi yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, data tersebut menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi yang tidak merata dan respons kebijakan membentuk lanskap mata uang Asia pada tahun 2025. ©Jurnalisia™
👀 2437


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.