Bangkui adalah sebutan lokal masyarakat Kalimantan, khususnya suku Dayak dan Banjar, untuk primata jenis Beruk (Macaca nemestrina).
Monyet ini berekor pendek yang berukuran tubuh lebih besar dan kekar dibandingkan monyet ekor panjang biasa. Ekornya sering kali melengkung ke atas, berbeda dengan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Mereka memiliki fisik yang kuat dan wajah yang lebih menonjol.
Hidup berkelompok di hutan belantara Kalimantan, namun sering ditemukan masuk ke lahan pertanian warga jika habitatnya terganggu. Bangkui dikenal memiliki gerakan yang lincah dan tangguh.
Di beberapa wilayah seperti Kabupaten Banjar dan Tabalong, Bangkui terkadang dianggap sebagai hama oleh petani karena sering memakan hasil kebun seperti karet, pisang, dan buah-buahan lainnya.
Gerakan lincah dan kuat dari hewan ini menjadi inspirasi utama bagi seni beladiri tradisional Dayak yang disebut Kuntau Bangkui. Pada Juli 2025, Kuntau Bangkui resmi diakui sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kotawaringin Timur.
Meskipun sama-sama primata dari Kalimantan, Bangkui berbeda dengan Bekantan (Nasalis larvatus) yang berhidung panjang atau Orang Utan (Pongo pygmaeus). ©Jurnalisia™
👀 11115


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu adalah gambaran isi kepalamu, maka diam lebih bijak daripada sok tahu.